“Self-awareness does not protect you from feeling, it prepares you to feel.”
Kata reset itu masih tertinggal di kepala saya. Kapal terus melaju dan machine berdengung rendah. Ombak di samping kami bergerak dengan ritme yang sama, seolah tidak terpengaruh apa pun yang sedang kami bicarakan.
Tourist wanita itu menatap laut sebentar lalu bicara lagi, seperti sedang menyusun pikirannya sendiri. “I used to think clarity was a reward, same with self-awareness.”
Saya menoleh ke arahnya. “Like an upgrade. Once you become more aware of yourself, everything’s supposed to feel easier.” Ia mengerutkan dahi. “Isn’t it?”
Angin bertiup lebih kencang, membuat kami berdiri sedikit lebih dekat tanpa sadar. “That’s what people expect.” Saya berkata sambil tersenyum kecil lalu menunjuk ke laut dengan dagu.
Ombak naik, lalu turun lagi, terus berulang. “But self-awareness isn’t really about fixing things. It’s about noticing them earlier.” saya melanjutkan
Kapal bergoyang ringan. Saya menggeser kaki sedikit agar tetap seimbang. “So when something comes, you’re not caught off guard. You already feel it on the way.”
Tourist laki-laki itu terdiam sejenak, masih menatap laut. “So it’s not about being calm all the time?” Saya menggeleng pelan. “No. Just more prepared.”
“Self-awareness does not calm the sea. It teaches you when the wave is about to rise.”
Part 17.

