“Sometimes the pause in our steps is what helps the mind arrive.”
Saat saya dan Mbak Patsy akhirnya menemukan tempat duduk di pinggir jalan, barulah rasa pegal itu mulai menjalar di kaki. Namun anehnya, justru di titik itu suasana menjadi lebih tenang.
Kami duduk tanpa banyak bicara, hanya memandang keramaian yang bergerak di depan kami. Penjual menata mangkuk, anak kecil berlari di sela orang dewasa dan aroma kuah panas masih menggantung di udara.
Di tengah hiruk pikuk itu saya melihat sesuatu yang lain. Perjalanan panjang tadi ternyata bukan hanya tentang mencari makanan halal untuk saya atau menu tanpa daging ayam untuk Mbak Patsy.
Ada lapisan kecil yang baru muncul ketika kami berhenti sejenak dan tidak lagi terburu-buru. Saya melihat orang-orang di pasar malam itu berjalan dengan ritme mereka sendiri.
Ada yang seperti mengejar sesuatu dan ada yang hanya menikmati angin malam. Dari sudut itu saya belajar bahwa sesibuk apapun, ada baiknya kita mencoba hadir sepenuhnya pada langkah yang sedang dijalani.
Kadang kita begitu terpaku pada tujuan sampai lupa bahwa perjalanan punya keindahannya sendiri. Malam itu mengingatkan saya bahwa kaki yang akhirnya memaksa saya duduk sejenak justru memberi ruang untuk melihat lebih jernih.
Oh well, mungkin kadang yang kita butuhkan hanyalah berhenti sebentar dan meresapi suasana di sekitar kita, supaya perjalanan terasa lebih dekat dan lebih bermakna.
“Wherever you stand, be the soul of that place.” Rumi
Part 39.

