“Even in stillness, a petal speaks of beauty and purpose.”
Saya dan Chloe melanjutkan langkah, melewati pohon kamboja yang dahannya menjuntai rendah ke arah trotoar. Beberapa bunganya gugur, tergeletak tenang di antara sela batu bata.
Chloe memungut satu kelopak putih dengan hati-hati, lalu menggenggamnya seperti rahasia kecil yang tak ingin cepat-cepat dibuka. “Mama,” bisiknya pelan, “kenapa bunga yang jatuh tetap terlihat cantik?”
Saya menoleh, memperhatikan jemarinya yang membungkus kelopak itu seolah sedang menjaga sesuatu yang rapuh. “Karena bunga itu jatuh bukan karena kalah, tapi karena tugasnya sudah selesai, sayang.”
“And then, Mama?” Chloe menatap penuh tanya, seperti menunggu kelanjutan dongeng. Ekspresinya mengingatkan saya pada diri sendiri sewaktu kecil, duduk tak berkedip di depan televisi menanti acara Flora dan Fauna di TVRI.
“Karena bunganya sudah selesai tampil, sayang. Ia turun dari pohon yang merupakan panggungnya supaya bunga baru bisa tumbuh. Allah yang mengatur semua itu, supaya kita belajar bergiliran, berbagi, dan tidak mengambil semuanya sendiri.”
Chloe mengangguk lalu menyelipkan kelopak itu ke dalam saku kecil bajunya. seakan menyimpan pesan pagi ini di tempat yang paling aman. Kami kembali berjalan seperti menjahit pagi yang belum selesai dirajut. Angin sesekali datang, membawa suara burung dan riuh pasar dari kejauhan.
Tapi di antara semua itu, Chloe berjalan dengan lebih ringan dari sebelumnya. Seperti tahu bahwa keindahan itu bukan sesuatu yang dikejar, tapi disambut dengan satu langkah lembut dalam satu pagi yang diam.
“A fallen flower is not forgotten, it’s remembered for sharing its season.”
Part 8.

