“The winds may bend the branches, but the roots only dig deeper.”
Langit di atas Whitworth Park berubah cerah, menyapu sisa-sisa kabut yang tadi menggantung seperti tirai tebal di udara. Angin lembut membawa aroma tanah basah, menghidupkan suasana pagi yang seolah membisikkan harapan baru.
Arsyl akhirnya berbicara, suaranya hampir seperti angin yang berlalu. “Tapi bagaimana kalau saya tidak pernah bisa sekuat pohon itu?” Kata-katanya menggantung di udara, bercampur dengan irama alam yang damai.
Saya menatapnya sejenak, membiarkan keheningan memberi ruang pada jawabannya. “Kamu tidak harus tahu sekarang, Arsyl. Kekuatan itu tidak datang sekaligus. Lihatlah pohon-pohon di sekitar kita, mereka tidak memaksakan diri untuk menjadi kokoh.”
“Mereka hanya bertahan, hari demi hari. Setiap luka yang ditinggalkan badai dan setiap ranting yang patah yang menguatkan akar dan menjadikannya lebih tangguh.” Saya menunjuk ke arah pohon-pohon yang berdiri megah meski diterpa musim berganti.
Arsyl menatap pohon disekitar mulai dari London plane, Scots pine, Beech hingga Hawthorn dan matanya mulai menangkap maknanya. Cahaya mentari pagi menyentuh wajahnya dengan lembut, perlahan menghapus bayangan kelam yang tadi bersarang.
“Luka-luka itu, seberapa pun menyakitkan, adalah cara kita tumbuh. Mereka menguatkan akar kita hingga suatu hari nanti, kita bisa berdiri lebih teguh,” suara saya pelan namun sarat keyakinan.
Arsyl menghela napas panjang, pandangannya kembali ke depan. “Mungkin saya tidak perlu tahu jawabannya sekarang. But I’ll keep walking.” Saya tersenyum, menepuk pundaknya dengan lembut. “Itulah yang penting. Langkah kecil kamu hari ini sudah lebih dari cukup.”
“The tree doesn’t rush to grow. It lets the seasons shape its strength.”
Part 6.

