“What you can do to promote world peace ? Go home and love your family”
Mother Teresa
Hong Kong merupakan kepulauan dikelilingi dengan bangunan beton yang menjulang tinggi. Suasana siang hari yang kaku dalam sekejap berubah romantic dipenuhi oleh kerlap-kerlip lampu aneka warna di malam hari. Pendaran cahayanya sangat gemerlap seakan kumpulan bintang yang bertengger menyelimuti gedung-gedung nan tinggi.
Suasana ceria bergelimang bintang menemani langkah saya dan Mbak Yovi menuju apartment di daerah Causeway bay. Tak tergerak melanjutkan langkah kaki ke touristic spot atau menambah extra beberapa hari untuk jalan-jalan.
“Mbak Yov, sampai apartment langsung tidur karena besok sudah harus segar bugar saat landing di Indonesia.”
“Iya Sarah. Sampai Jogja aku langsung ke sekolah ambil raport anak-anak.” Matanya terlihat berbinar seperti pendaran cahaya bintang malam itu.
“Aku juga pas sampai Bali, jadwal menemani acara anak-anak sudah padat merayap.” Tak terasa hati hangat membayangkan wajah Nigel, Chloe dan Sophie.
Tentunya perjalanan business yang super padat akan membuat tulang terasa remuk namun selama itu tidak mengalahkan prioritas saya dan mbak Yovi sebagai seorang ibu, akan kami jalani with an open heart.
Oh well, keluarga adalah sumber dari sebuah dekapan cinta tanpa syarat. Untuk selalu menjaganya, sangat butuh pengorbanan yang penuh totalitas pada diri sendiri. It doesn’t work for everyone, but it works for me and mbak Yovi.
Lambat laun lantunan lagu di dalam bisikan hati menemani malam terakhir kami di Hongkong,
“Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga”
There are two pillars of happiness. One is love. The other is finding a way of coping with life that does not push love away.”
Unknown

