“Closeness is not measured in distance, but in the quiet rhythm we gently fall into.”
Saya tersenyum pelan mengingat ucapan Sophie waktu itu. Betapa jujurnya anak-anak dalam menangkap sesuatu yang sering kita lewatkan saat dewasa, bahwa menjadi bagian tidak selalu berarti harus bersuara.
Ada kehadiran yang cukup hanya dengan duduk diam, tapi ikut merasakan suasana. Suara percakapan di samping masih terus bergulir. Topicnya kini berpindah pada rasa rindu yang tertahan karena belum bisa pulang, dan harga ticket pesawat yang terus naik.
Salah satu dari mereka membuka ponsel, memperlihatkan photo keluarga. Yang lain segera mendekat, memberi komentar hangat, tertawa kecil, lalu saling berbagi photo milik mereka sendiri.
Saya tidak mengenal mereka, dan mereka tidak berbicara pada saya. Tapi entah mengapa, seperti sedang duduk di ruang tamu yang tidak asing. Bukan sebagai tamu undangan, hanya seseorang yang lewat, tapi tetap disambut oleh kehangatan suasananya.
Sepertinya rasa pulang tidak selalu berkaitan dengan tempat. Kadang, ia tersembunyi dalam suasana yang kita pahami, bahasa yang kita kenal, atau ritme tawa yang membawa ingatan pulang.
Saya kembali menatap keluar jendela. Mobil-mobil menyilang di bawah dan sinar pagi mulai menanjak. Tapi justru di tengah segala yang bergerak, hati saya menemukan jeda yaitu ruang tenang yang tidak perlu dijelaskan, cukup dibenarkan oleh rasa.
Ternyata, yang membuat kita merasa tidak benar-benar sendiri bukan hanya mereka yang memanggil nama kita, tapi juga suasana yang diam-diam menyisakan ruang untuk kita berada di dalamnya.
“Where we are is not measured by distance, but by the rhythm we find ourselves quietly in step with.”
Part 25.

