“A child remembers the rhythm of care more than the sound of instruction.”
Nenek itu masih di tempatnya. Tangannya kini sibuk merapikan daun pandan yang sudah bersih lalu melipatnya satu per satu seperti sedang melipat waktu. Sophie masih memperhatikan, tapi kini ada yang berubah di wajahnya.
Kali ini bukan lagi rasa ingin tahu semata, melainkan semacam rasa kagum yang tumbuh diam-diam. Saya menyadari, anak-anak punya cara tersendiri menangkap pelajaran hidup. Tak butuh penjelasan panjang, cukup satu pemandangan yang menyentuh untuk tinggal lama dalam ingatan.
Di hadapan kami, nenek itu memperlihatkan bahwa kesungguhan tak pernah butuh suara keras, dan ketekunan tidak butuh panggung. Ia tidak menoleh, tapi entah bagaimana seolah tahu bahwa ada sepasang mata kecil yang sedang belajar.
Ia terus melanjutkan, melipat satu helai lagi lalu menepuk pelan sisi daun yang telah bersih. Barangkali itulah caranya mencintai dunia yaitu dengan terus merawat hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian.
Saya menatap Sophie, yang saat itu baru berumur delapan tahun. Mungkin kini ia sudah lupa bentuk tenda tempat kami duduk saat itu atau warna baju yang dikenakan si nenek. Tapi saya berharap ia akan terus mengingat gerakan yang tenang itu, dan pelajaran yang dibawanya.
Bahwa hidup bukan soal seberapa cepat kita melangkah, tapi seberapa dalam kita hadir. Bahwa keindahan bisa muncul dalam hal-hal paling sederhana, asal kita mau melambat untuk benar-benar merasakannya.
Cinta tidak selalu soal hubungan dua insan. Ia juga bisa tumbuh dalam hubungan kita dengan sekitar, termasuk dalam cara kita melakukan pekerjaan. Cinta yang tulus, sering kali tak muncul dalam kata-kata, tapi hidup diam-diam… dalam sehelai daun yang dibersihkan perlahan, tanpa suara.
“The quietest moments often carry the lessons that stay the longest.”
Part 5.

