“In the hush between moments, something inside us quietly begins to grow.”
Saya dan Michael masih duduk di bangku itu, setelah kebab yang hampir habis. Suasana di sekitar tetap bergerak, terlihat orang-orang berlalu-lalang, langkah kaki yang bersahutan dan percakapan terdengar samar.
Namun, di bangku kayu kecil ini, kami seperti terhenti sejenak, seolah waktu melambat. Kami mengamati dan membiarkan diri tenggelam dalam keheningan yang hanya dihiasi oleh hembusan angin lembut yang menyentuh kulit.
Michael menatap jauh ke depan. Tatapannya kosong, tapi bukan hampa. Lebih seperti sedang mencari sesuatu yang tak bisa dilihat mata. Saya diam, memberi ruang, tidak ingin mengganggu ketenangan yang tengah menyelubungi kami.
Dari kejauhan, sekelompok orang melintas cepat. Langkah mereka tergesa, sibuk dengan urusan masing-masing. Namun di tengah arus itu, seorang anak kecil berjalan pelan, nyaris seperti sedang menari dalam pikirannya sendiri. Ia hanya berjalan, menikmati langkah demi langkah.
Tiba-tiba saya merasa seperti melihat sebuah gambaran kehidupan. Betapa mudahnya kita terseret ritme yang cepat, mengira bahwa semakin cepat kita bergerak, semakin banyak yang akan kita capai.
Padahal, anak kecil itu, dengan langkah-langkah ringannya yang tak tergesa, mengajarkan sesuatu yang lain. Ia tidak terganggu oleh kecepatan di sekelilingnya, dan justru karena itu, ia benar-benar hadir. Ia melihat, ia merasakan, ia hadir.
Dalam keheningan itu, kami seakan sama‑sama mengerti bahwa tidak semua hal bergerak lewat langkah yang cepat. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah berhenti sebentar, memberi ruang untuk diri sendiri, dan membiarkan hidup perlahan mendekat dengan caranya sendiri
“The heart listens best when the world slows down.”
Part 31.

