“The day opens its doors, even if you are still standing still.”
Kata-kata wanita itu terus terngiang bahkan setelah percakapan kami mereda untuk sementara. Saya memandang keluar jendela besar di depan kami dan kenangan itu datang pelan seperti film lama yang diputar ulang.
Saat itu, hari-hari terasa panjang. Saya bangun pagi dengan perasaan rindu pada suasana rumah yang sulit dijelaskan. Berjalan ke campus membawa sederet tugas kuliah dan jadwal lab yang sudah menanti.
Matahari tetap terbit tepat waktu, tidak pernah menyesuaikan diri dengan suasana hati saya. Cahayanya tetap menyentuh atap-atap bangunan, entah saya merasa baik atau tidak hari itu.
Salju pun turun sesuai musimnya dan angin dingin berembus tanpa mempertimbangkan apakah hari itu saya merasa kuat atau justru goyah.
Tugas-tugas tetap menunggu di meja belajar kecil kamar saya. Ritme hidup terus berjalan, tidak pernah melambat hanya karena saya lelah atau belum sepenuhnya siap.
Di hadapan dunia, saya hanyalah satu titik kecil yang mudah terlewat. Dunia tidak mengubah arahnya hanya karena saya sedang bingung.
Namun justru dari masa itu saya kembali diingatkan akan satu hal sederhana yang perlahan menancap lagi di hati. Siap ataupun tidak, hidup tetap berjalan dan saya tetap harus melangkah.
“Life goes on.” John Lennon
Part 11.

