“True readiness is not about control, but about adapting to the uncontrollable.”
Pagi itu, di bawah teriknya matahari Phnom Penh yang tak memberi ampun, cuaca di lokasi tradeshow semakin memanas. Setelah kemarin dipenuhi cucuran keringat saat loading day, semangat saya perlahan kembali, meskipun tubuh masih terasa lelah.
Tenda-tenda putih yang kemarin tampak megah kini terlihat seperti perisai rapuh yang tak mampu menahan sengatan cuaca. Angin berputar-putar tanpa daya, terlalu lemah untuk mendinginkan udara yang serasa mengurung
Setiap langkah terasa berat, setiap tarikan napas seolah menggandeng keluhan. Di tengah kekalutan itu, sosok tenang Mbak Patsy tiba-tiba menarik perhatian. Ia muncul dengan senyumnya yang khas membawa ketenangan di tengah situasi apa pun.
Namun kali ini, ada yang berbeda. Di tangannya tergenggam sebuah handuk mandi siap digunakan untuk menyeka keringat. Saya menatapnya dengan alis terangkat merasa heran sekaligus geli. “Mbak, bukannya cukup pakai tissue saja?” mencoba menahan senyum.
Mbak Patsy hanya tersenyum kecil, pandangannya jatuh ke handuk itu sebelum menjawab dengan nada lembut, “Mbak Sarah, kadang kita harus mempersiapkan lebih dari apa yang kita kira cukup. Panas hari ini tidak main-main. Saya sudah bisa merasakan sejak kemarin.”
Kata-katanya terasa sederhana tapi mampu membuat saya terdiam. Sering kali, kita terburu-buru hanya membawa apa yang menurut kita ‘cukup,’ tanpa memikirkan bahwa situasi bisa berubah dan menuntut lebih dari sekadar kesiapan biasa.
Mbak Patsy kembali tersenyum dan saya membalas senyumannya dengan hangat. Dalam hati bergumam, hidup bukan hanya tentang bersiap untuk apa yang kita harapkan, tetapi juga untuk mempersiapkan diri untuk hal-hal yang tidak bisa kita prediksi.
“Preparation is the bridge between uncertainty and confidence.”
Part 2.

