0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Sit with the pain until it passes, and you will be calmer for the next one.” Naval Ravikant

 

Langit nampak cerah dibungkus oleh gemerlap kerlipan bintang dari setiap sudut namun hati saya sangatlah kelam sembari memegang kertas ujian yang terlihat lusuh. Daniel datang menghampiri saya yang duduk terpaku dengan pandangan kosong penuh lara.

 

“Daniel, kenapa nilai saya sangat jelek padahal sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk melakukan research  hingga sering tertidur di library.”

“Mari kita lihat dan revisi bersama dengan kepala dingin. Sarah, coba untuk menerima rasa sakit tersebut, jangan dilawan dengan amarah.”

 

Awalnya enggan untuk mengikuti sarannya karena hati masih campur aduk rasa denial, pain dan pride yang hancur lebur karena nilai yang rendah. Akhirnya setelah mencoba to sit with the pain and acknowledge my feelings, saya mulai belajar  memproses emosi yang tadinya kalut.

 

 

“Sarah, nilai yang mengecewakan is not a reflection of your intelligence or worth as a student. In fact, you are so brave karena kamu belajar to face the pain.”

“Yeah, saya tidak boleh lari dari rasa sakit di dalam sini.” Menunjuk ke dalam hati.

 

Oh well, mungkin tidak terlihat sepenting saat saya merasa tersakiti secara fisik, namun rasa sakit yang dialami secara emotional sama pentingnya dan tak bisa di acuhkan.

 

Saya akhirnya menyadari bahwa saya tak boleh lari dan harus merasakan segala rasa, termasuk rasa sakit, as just as my body feels pain when injured, my heart aches when I’m emotionally wounded.

 

Pain isn’t necessarily harmful, and it serves as a signal indicating the need to allow myself to heal. It prompts me to introspect or change direction. Therefore, I must permit myself to fully experience all emotions, including pain. Dear me, feel your pain until it passes.

 

“That’s the thing about pain, it demands to be felt.” John Green

Bagikan ini:
error: Content is protected !!