Apakah Anda baru-baru ini melihat orang-orang membawa kantong sampah sambil berlari? Atau tangan mereka dipenuhi dengan botol plastik bekas? Anda mungkin segera melihat orang-orang berolahraga secara plogging di sekitar Anda.
Kegemaran kebugaran terbaru dari Swedia kini tidak hanya menembus seluruh Eropa tetapi juga sampai Amerika Serikat dan tampaknya akan sampai ke Asia termasuk Indonesia. A.S. Istilah ini adalah gabungan dari kata jogging dan bahasa Swedia “plocka upp” yang berarti mengambil.
Di seluruh Eropa, mereka mempunyai komunitas baik itu di Skandinavia, Jerman dan sekitarnya. Di Amerika Serikat, India, Afrika bahkan di Selandia Baru, hal tersebut sudah mulai diterapkan terutama para olahragawan yang sudah muak dengan sampah di sepanjang rute tempat mereka berolahraga.
Manfaat Plogging Di Bandingkan dengan Jogging
Kegiatan olahraga ini tidak hanya membantu lingkungan, tetapi cukup baik untuk kesehatan Anda. Pikirkan melakukan squat saat jogging. Menurut aplikasi kebugaran yang berbasis di Swedia, Lifesum, memungkinkan para pengguna untuk melacak aktivitas plogging. Jogging setengah jam serta mengambil sampah akan membakar 288 kalori yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan 235 kalori yang dibakar dengan hanya melakukan jogging. Jika Anda melakukan jalan cepat , kalori yang terbakar lebih sedikit yaitu akan menghabiskan hanya sekitar 120 kalori.
Hal yang menyenangkan tentang plogging adalah bahwa siapa pun dapat melakukannya. Tagar #plogging dan #plogga digunakan oleh semua orang yang menggabungkan olahraga dengan mengambil sampah, termasuk pelari, pejalan kaki, pemanjat gunung, pesepeda, dan bahkan paddleboarder.
Apa yang Anda perlukan disaat Plogging?
Pada tingkat paling dasar, yang dibutuhkan adalah tangan dan kemauan untuk menjadi kotor. Banyak tas plastik yang dibuang yang bisa didapatkan di sepanjang jalan dan tas tersebut benar-benar ada di mana-mana dan Anda dapat mengisinya di sepanjang jalan. Alternatif lain adalah membuang sampah di tempat sampah di sepanjang rute Anda. Anda juga bisa membawa ransel untuk air agar tangan Anda bebas mengambil sampah.
Mayokun Iyaomoler, “ketua plogga” dari Klub Plogga dari OAU, sebuah kelompok terorganisir di Universitas Obafemi Awolowo di Nigeria, mengatakan bahwa para anggotanya membawa kantong sampah daur ulang dan memakai sarung tangan berkebun bahkan masker.
Salah satu komunitas dari India mengatakan kelompoknya di Delhi membawa sarung tangan non-plastik yang dapat digunakan kembali juga tas goni, yang bisa digunakan kembali. Para pelari mengatakan bahwa plogging bisa terasa menyenangkan karena Anda melakukan sesuatu yang positif dan itu bisa membuat Anda merasa seperti anak kecil lagi. Pendiri Plogga, Ahlström, mengatakan bahwa olahgara ini dapat memperkuat pengalaman euforia karena layaknya perburuan harta karun. Kamu bersenang-senang dan hal tersebut membuat menjadi kecanduan.
Fisiologis senam, Ruby, membandingkan kegiatan plogging dengan kegiatan lari 5K yang memberikan kaos dan medali kepada peserta. Medali para plogger tentunya berbeda. Mereka tidak hanya memiliki satu medali di garis finish tetapi mereka memiliki koleksi tutup botol sepanjang perjalanan dan hal tersebut membuat lebih bersemangat.
Para plogger juga menggunakan sosial media untuk menghubungkan dan bertukar ide dengan plogger lain, mendorong pendatang baru, mempublikasikan acara plogging, dan mempromosikan aktivitas itu sendiri, sering kali dalam foto yang diatur dengan cantik sebelum di posting.
Bagi banyak ploggers, gambar-gambar Instagram dari hasil hunting mereka setelah plogging sama cantiknya dengan yang diposting oleh para pecinta kuliner dan fashionista. Dengan satu gambar sederhana, Anda dapat menceritakan sebuah kisah serta memperlihatkan kepada masyarakat umum bahwa dengan plogging Anda berusaha melindungi apa yang Anda cintai yaitu lingkungan yang bersih, bebas dari sampah.



