Taman Nasional Gunung Halimun Salak terletak di Provinsi Jawa Barat dengan luas mencapai 113.357 hektar. Kawasan ini termasuk salah satu kawasan penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah tersebut serta sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekitarnya.
Taman nasional ini mencakup wilayah berbukit dan bergunung pada kisaran ketinggian antara 500-2.211 m dpl. Gunung yang masuk dalam kawasan ini antara lain adalah Gunung Halimun Utara (1.929 m), Gunung Ciawitali (1.530 m), Gunung Kencana (1.831 m), Gunung Botol (1.850 m), Gunung Sanggabuana (1.920 m), Gunung Kendeng Selatan (1.680 m), Gunung Halimun Selatan (1.758 m), Gunung Endut (timur) (1.471 m), Gunung Sumbul (1.926 m), dan Gunung Salak (puncak 1 setinggi 2.211 m dan puncak 2 dengan ketinggian 2.180 m).
Kekayaan anekaragam hayati yang terdapat di kawasan ini telah lama menarik perhatian para pengunjung dan peneliti dari dalam maupun luar negeri. Tercatat lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga hidup di hutan alam dalam kawasan taman nasional ini.
Jenis hutan alam di kawasan taman nasional ini antara lain hutan hujan dataran rendah (100-1.000 m) yang didominasi oleh Zona Collin (500-1.000 m), hutan hujan pegunungan bawah atau sub montana (1.000-1.500 m) dan hutan hujan pegunungan tengah atau hutan montana (1.500-1.929 m).
Pada ketinggian 1.000-1.500 m dapat dijumpai pohon-pohon yang memiliki tinggi hingga 40 m dengan diameter pohon 120 cm, sedangkan pada ketinggian yang lebih rendah di bawah 1.000 m dapat dijumpai pohon-pohon yang jauh lebih tinggi.
Di dalam Kawasan ini tercatat 13 jenis rotan dan 12 jenis bambu. Terdapat jenis bambu yang merupakan tumbuhan asli Jawa Barat yaitu bambu cangkore (Dinochloa scandens) dan bambu tamiang (Schyzostachyum sp.).
Hasil inventarisasi dan koleksi anggrek di Taman Nasional Gunung Halimun Salak sampai saat ini tercatat memiliki sekitar 258 jenis yang tergolong dalam 74 marga. Empat puluh tujuh jenis di antaranya tercatat sebagai jenis endemik Pulau Jawa dan lima jenis merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa. Jumlah anggrek tersebut merupakan satu per tiga bagian dari jumlah jenis anggrek di Pulau Jawa yang tercatat sebanyak 731 jenis.
Di kawasan ini juga dapat dijumpai berbagai jenis jamur. Dalam kelembaban hutan di kawasan ini jamur dapat dilihat setiap waktu sepanjang tahun, khususnya selama musim hujan antara bulan September hingga Mei.
Di dalam kawasan taman nasional ini terdapat berbagai tipe ekosistem. Dalam tipe ekosistem tersebut merupakan habitat dari berbagai jenis fauna langka yang dilindungi. Berdasarkan sejarah, kawasan ini merupakan habitat badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan harimau Jawa (Panthera tigris scondaicus).
Di dalam kawasan ini juga terdapat 61 spesies mamalia, beberapa spesies di antaranya termasuk satwa endemik Pulau Jawa dan spesies yang terancam punah. Spesies yang terancam punah yang masih dapat dijumpai antara lain macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), owa Jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypithecus auratus), ajag atau anjing hutan (Cuon alpinus javanicus), sigung (Mydaus javanensis) dan kukang (Nycticebus coucang).
Taman nasional ini tercatat memiliki 244 spesies burung atau setara dengan 50% dari jumlah spesies burung yang hidup di Jawa dan Bali. Sekitar 32 spesies merupakan satwa endemik di Jawa dengan sebaran terbatas serta terdapat 23 spesies burung migran.
Kawasan taman nasional ini telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah atau kawasan burung penting Important Bird Areas (IBA) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Kawasan ini sangat penting untuk menyelamatkan spesies elang Jawa (Spizaetus bartelsi), luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal Jawa (Cochoa azurea), celepuk Jawa (Otus angelinae) dan gelatik Jawa (Padda oryzivora).
Di kawasan ini dapat ditemukan sekitar 50 spesies reptilia, 27 spesies amfibi, 26 spesies capung dan tercatat memiliki 31 spesies ikan yang sebagian besar (37,5%) tergolong ikan-ikan gobiid dan eleotriad, seperti spesies-spesies ikan komplementer air tawar, jenis-jenis tersebut di antaranya paray (Rasbora aprotaenia), bogo (Channa gachua), beunter (Puntius binotus), belut (Monopterus album), kehkel (Glyptothorax platypogon), bungkreng (Poeciba reticulata) dan Sicyopterus cf microcephalus.
Begitu banyak keanekaragaman hayati dan ekosistem yang dapat dijumpai oleh para pengunjung bukan berarti pengunjung bisa bebas melakukan sesukanya tanpa ada rasa tanggung jawab. Dengan adanya rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat kawasan taman nasional ini sama halnya dengan ikut melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.


