0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Tumpahan minyak di Balikpapan yang terjadi akhir bulan lalu, tepatnya pada tanggal 31 Maret 2018 pukul 03.00 waktu setempat telah menyebabkan kerugian dalam berbagai aspek, termasuk lingkungan dan sosial. Hingga kini, kasus tumpahan minyak ini masih terus diselidiki dan dalam proses penanggulangan.

 

Minyak mentah yang tumpah di Teluk Balikpapan ini diketahui berasal dari pipa Pertamina yang patah. PT Pertamina menjelaskan bahwa melubernya minyak disebabkan oleh karena patahnya pipa penyalur minyak mentah dari Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser Utara ke Kilang Balikpapan. Pipa yang patah tersebut terbuat dari baja berdiameter 20 inci dan tebal 12 mm yang diletakkan di dasar laut dengan kedalaman 20-25 meter.

 

Pipa baja tersebut dipasang pertama kali pada tahun 1998. Diduga pipa tersebut patah dan bergeser sekitar 120 meter dari posisi awalnya. Masih belum jelas penyebab patahnya pipa ini, namun temuan terbaru pada kasus ini membeberkan bahwa penyebab kepatahan pipa mengarah pada kapal MV Ever Judger. Jangkar seberat 12 ton milik kapal tersebut diduga tersangkut di pipa, lalu menggaruk pipa tersebut hingga patah. Dugaan tersebut saat ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

 

Meski begitu, PT Pertamina juga dinilai turut bersalah dan harus dikenakan sanksi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan penyelidikan intensif dan kemudian didapat kesimpulan bahwa terdapat beberapa kelalaian yang dilakukan oleh perusahaan Pertamina sehingga menyebabkan kebocoran minyak yang tentunya berdampak pada kerusakan lingkungan dan perairan Balikpapan.

 

Salah satu kelalaian dari perusahaan minyak ini adalah tidak memiliki sistem peringatan dini kebocoran minyak. Sistem pengawasan pipa secara intensif dan pemantauan pipa secara otomatis juga tidak dimiliki oleh Pertamina. Apabila perusahaan ini memiliki sistem tersebut tentunya kebocoran minyak akan cepat diketahui dan dapat ditanggulangi secara cepat sehingga tidak menimbulkan dampak yang terlalu besar.

 

Penyelidikan hingga 8 April lalu menemukan bahwa tumpahan minyak diperkirakan telah mengotori area seluas 7.000 hektare dan menjalar hingga seluas 12.987,2 hektare. Angka tersebut didapat dari kajian KLHK dan analisis citra satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

 

Kajian tersebut juga mencatat bahwa tumpahan minyak mencemari pantai kurang lebih sejauh 60 kilometer di sepanjang Penajam Pasir Utara hingga Balikpapan. Dampak negatif pun tak luput menyerang ekosistem laut. Ribuan tanaman mangrove, habitat bintang laut, kepiting, dan binatang laut lain pun ikut terganggu.

 

Sebanyak 34 hektare ekosistem tanaman mangrove di kelurahan Karangau, 6.000 tanaman mangrove dan 2.000 bibit mangrove di Kampung Atas Air Margasari rusak akibat bencana tumpahan minyak itu.

 

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) juga menyebutkan bahwa tumpahan minyak telah merusak empat kawasan terumbu karang di Balikpapan, yaitu Pulau Balang, Janebora, Tanjung Batu, dan Tanjung Jumpai. Tidak hanya itu, empat mamalia yang dilindungi pun terpaksa dijauhkan dari habitat aslinya karena telah tercemar tumpahan minyak. Keempat hewan laut mamalia tersebut adalah pesut, lumba-lumba hidung botol, lumba-lumba tanpa sirip belakang, dan dugong (ikan duyung).

 

Dampak negatif dari bencana minyak tumpah juga dirasakan oleh para peternak kepiting. Tumpahan minyak tersebut dikabarkan telah merusak ratusan lubang keramba yang dibuat oleh para peternak kepiting. Hal ini diakui oleh salah seorang peternak yang mengelola sekitar 40 lubang tambak berisi sekitar satu ton kepiting.

 

Berdasarkan penuturannya, sebagian kepitingnya langsung mati di hari-hari pertama setelah terjadinya tumpahan minyak yang meluber di perairan Balikpapan. Sebagian sisanya menyusul dengan mati satu per satu setiap hari. Kerugian yang dialaminya pun cukup besar karena Ia harus membuat 40 lubang keramba baru yang setidaknya memakan biaya 20 juta rupiah.

 

Adanya bencana ini menyiratkan bahwa satu kelalain seseorang dapat berdampak buruk pada begitu banyak orang dan lingkungannya. Kerugian yang diakibatkan menimpa dalam berbagai aspek sehingga penanganan cepat dan tepat pun sangat dibutuhkan. Tak dapat dipungkiri, kerja sama dengan masyarakat pun diperlukan untuk mempercepat proses penanggulangan bencana ini, seperti ikut serta dalam membersihkan wilayah yang tercemar tumpahan minyak di Balikpapan.

 

Tumpahan Minyak di BalikpapanTumpahan Minyak di Balikpapan Tumpahan Minyak di Balikpapan Tumpahan Minyak di BalikpapanTumpahan Minyak di Balikpapan Tumpahan Minyak di Balikpapan Tumpahan Minyak di Balikpapan

Bagikan ini: