“I am not interested in anyone’s breadcrumbs, I want the whole bakery.” Case Kenny
Di bawah langit Siem Reap yang membara oleh teriknya sinar mentari, deretan tenda putih megah tampak berjajar, memayungi seluruh booth exhibitor. Meski kipas-kipas besar berputar di sana-sini, udara panas tetap menggantung di udara, menyatu dengan pengap yang memenuhi ruang.
Saya mulai menyeka bulir keringat yang mengalir di dahi dengan hati resah. Namun saat melirik, terlihat Mbak Patsy duduk dengan tenang, seolah angin panas tak menyentuhnya. Wajahnya teduh tanpa setitik pun kelelahan bagaikan oase di tengah padang tandus.
Kepala mulai berdenyut ikut tercekik oleh panas yang menyesakkan. Saya mencoba menenangkan diri, meneguk perlahan segelas tea, sembari sesekali melirik ke arah Mbak Patsy, menunggu tanda-tanda hawa panas itu mulai mengusiknya.
Mbak Patsy tetap duduk anggun dengan senyum segar yang selalu ia lempar pada setiap pengunjung, seolah hari baru saja dimulai. Sementara itu, saya sudah bolak-balik mengipas wajah dan melangkah keluar, mencari hembusan angin yang sejuk, namun disambut hawa panas yang tak terelakkan.
Kembali ke booth, saya menghampiri Mbak Patsy dan duduk di sampingnya, lalu bertanya, “Mbak Pats, kenapa tidak kepanasan?” Dia tertawa kecil, “Tidak selalu nyaman tapi kita datang kesini untuk kerja.” jawabnya dengan suara sehalus angin pagi.
Saya tersenyum dan mengangguk, sementara hati berbisik pelan, “Benar juga.” Terbang ribuan kilometer ke Cambodia demi sebuah tradeshow, ini saatnya all out. Semangat yang sempat meredup, kini menyala kembali. Hawa panas? Itu hanya gangguan kecil. Focusnya adalah bekerja dengan sepenuh hati.
“Don’t be content with scraps when you have the power to bake your own bread.”

