“Some habits are never taught. They simply drift into another soul, like whispers carried by the wind.”
Saya menuang lagi tea ke masing-masing cangkir. Uap tipis membubung pelan, menghangatkan udara yang masih menyimpan sisa dingin dari gerimis tadi. Arsyl menatap cangkirnya sejenak sebelum menggenggamnya dengan kedua tangan, seolah membiarkan kehangatan itu meresap sampai ke ujung jemarinya.
“Di Kazakhstan, tea itu bagian dari budaya. Biasanya black tea, dicampur gula atau honey, kadang juga dipadu dengan cardamom dan fennel seeds sebelum akhirnya ditambahkan susu.” Ia tersenyum kecil, menatap cairan bening kecoklatan dalam cangkirnya yang kali ini tanpa campuran apa pun.
“Tapi sekarang, saya mulai terbiasa,” lanjutnya, melirik saya sekilas. “Mungkin karena Sarah yang selalu minum tea tanpa gula tiap saat, lalu ke mana-mana bawa thermos isi tea.” Saya tertawa kecil, mengangkat thermos yang tergeletak di samping, seakan mengonfirmasi perkataannya.
Hong menatap kami, matanya berbinar dalam cahaya lampu temaram. “Kadang kita tidak sadar kalau kebiasaan kecil kita bisa menular, tanpa paksaan, tanpa perlu kata-kata.”
Arsyl mengangguk pelan, menyesap tea-nya. Saya mengusap permukaan cangkir yang masih hangat, membiarkan kata-kata Hong meresap seperti uap yang perlahan memudar.
Mungkin begitu juga dengan kebiasaan, bukan tentang memengaruhi, tapi tentang melebur, seperti uap tea yang perlahan menyatu dengan udara, meninggalkan jejak hangat yang tanpa sadar dibawa orang lain dalam genggaman mereka.
“Not all habits are taught, some quietly take root in the hearts of those who watch.”
Part 16.

