“Wandering isn’t failure. It’s just a softer way of searching.”
Sophie masih duduk di samping saya, lututnya merapat, dagunya kini bertumpu di lutut. Bayangan kami jatuh memanjang di tanah, dibelah cahaya mentari yang mulai hangat tapi belum menyengat.
Semut itu sudah jauh dari pandangan, tapi jejak ceritanya masih tinggal di udara di antara kami. Ia menggeser duduknya sedikit mendekat, lalu bertanya pelan, “Mama… do you think the ant ever gets lost?”
Saya menoleh perlahan. “Mungkin, sayang. Semut juga bisa tersesat. Mereka berjalan mengikuti aroma yang ditinggalkan oleh temannya, namanya jejak pheromone.” Dahinya berkerut. “Pheromone?”
Saya tersenyum kecil. “Itu seperti aroma halus yang tak kelihatan. Semut lain bisa mencium dan tahu harus ke mana. It’s like an invisible map, in a way. Tapi kalau semut keluar dari jalur, atau angin meniup aromanya, mereka bisa berputar-putar, atau diam dulu, sampai menemukan jejaknya lagi.”
Saya pun memutar badan sambil jongkok, menirukan semut yang sedang kebingungan dengan ekspresi lucu. Sophie tertawa, matanya menyipit senang, lalu kembali diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“So it doesn’t always go the right way?” Saya menyapu debu halus dari ujung sepatunya. “Tidak selalu, sayang. Kadang salah jalan, kadang harus mundur. Tapi yang penting bukan soal jalannya lurus atau tidak. Yang penting… semut itu terus mencari.”
Sophie tersenyum lalu berjalan mundur, menirukan semut yang tersesat. Wajahnya serious, alisnya berkerut. Saya ikut dengan posisi masih jongkok, meniru gayanya. Kami berjalan mundur bersama, lalu tertawa, tawa ringan yang ikut dibawa oleh angin pagi.
“Getting lost isn’t the end, sometimes it’s just part of the search.”
Part 12.

