“When pain lingers, don’t rush it out. Sit beside it until it softens.”
Di tengah lalu-lalang airport yang sibuk, saya masih duduk diam di bangku itu, membiarkan waktu mengalir sedikit lebih lambat. Di hadapan terlihat seorang wanita muda tengah menenangkan anak kecil yang menangis dalam dekapannya.
Tangannya penuh oleh tas belanja, botol minum, hingga boneka kecil berwarna pink yang nyaris jatuh ke lantai dan di kakinya tergantung kantong plastic bening berisi camilan anak-anak dan candy.
Di pundaknya tergantung tas besar yang resletingnya sedikit terbuka, menampakkan diapers dan botol susu. Tapi di tengah semua itu, matanya tetap lembut dan suaranya tidak meninggi.
Anak itu terus menangis dan saya bisa merasakan beberapa pandangan mulai tertuju pada mereka, ada yang gelisah dan ada yang sekadar melirik lalu pergi. Tapi wanita itu tidak tergesa untuk membuatnya diam.
Ia tidak berkata “jangan menangis” atau “malu dilihat orang.” Ia hanya mengayun pelan, memeluk lebih erat, seolah berbisik, “Tidak apa-apa, Nak. Mama tetap di sini.”
Saya menatap mereka lama. Mungkin memang begitulah seharusnya kita memperlakukan sisi rapuh dalam diri, bukan diburu untuk segera tenang dan bukan ditekan agar kuat secepatnya, tapi dipeluk hingga tangisnya reda.
Kelembutan yang menyembuhkan sering lahir bukan dari luar, tapi dari cara kita sendiri yang memilih untuk tidak menghakimi luka yang masih mencari waktu untuk pulih.
“Let the wound find its own rhythm. Not everything that hurts is ready to be hushed.”
Part 12.

