0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“A simple gift, given with sincerity, holds the warmth of a thousand welcomes.”

 

Kami melangkah menuju lift, Chloe masih menggenggam plastic kecil itu dengan hati-hati, seolah takut manisnya akan tumpah sebelum sempat dinikmati. Ada kehangatan yang tersisa dari pertemuan tadi, seperti jejak wangi bunga yang tertinggal di udara.

 

Di lantai tujuan, lorong terasa sunyi, hanya langkah kaki kami yang berbaur dengan dengungan lembut pendingin ruangan. Saya menggesek kartu kunci, terdengar bunyi click pelan, dan pintu terbuka, menyambut dengan kehangatan lain yang telah menunggu di dalam.

 

Ruangan itu sederhana namun nyaman. Sebuah king bed luas terbentang di tengah, seakan mengundang tubuh yang lelah untuk merebah. Di sudut, TV tergantung di dinding, sunyi dalam ketenangannya.

 

Tak jauh dari sana, sebuah meja kecil dengan dua kursi menunggu, tempat yang sempurna untuk menikmati secangkir tea. Di sisi lain, dapur mungil tertata rapi dengan kompor kecil, wastafel bersih, lemari kayu sederhana, dan kulkas dua pintu yang memberi kesan lebih lapang.

 

 

Namun yang paling mencuri perhatian adalah balcony dengan jendela besar, tirainya sedikit tersibak, membiarkan cahaya pagi mengalir masuk, membentuk siluet lembut di lantai. Di atas meja, sebuah bingkisan kecil menarik perhatian.

 

Sebuah piring porcelain berisi buah-buahan tropis tersusun indah , mulai dari mango hingga apple merah yang mengilap di bawah cahaya. Saya melangkah mendekat, membaca secarik kertas kecil yang terselip di sampingnya:”A warm welcome for you. May your stay be sweet and full of joy.”

 

Saya tersenyum, lalu menoleh ke Chloe yang sudah naik ke kursi, mengamati buah-buahan itu dengan mata berbinar. “They gave us fruit, Mama!” serunya riang, suaranya ringan seperti angin pagi yang berembus masuk dari jendela. Sungguh, ada kehangatan rumah di negeri orang.

 

“A simple gift, given with sincerity, holds the warmth of a thousand welcomes.”

Part 8.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!