“Sometimes we want to be told ‘I need you’ more than we do ‘I love you,’ because we want to feel that our lives have a purpose. So, be brave and say honestly, ‘I need you.’” Haemin Sunim
Pagi itu, langit Hat Yai membentang lembut seperti kain biru pudar yang dijahit oleh angin. Awan tipis melayang perlahan, sementara hangat udara pagi menyentuh kulit seperti bisikan halus.
Chloe memeluk botol air mineralnya erat-erat, seolah genggaman itu bisa menjaga dunia tetap tenang. Di sekitarnya, cahaya matahari menari pelan di atas bangku taman, menelusuri garis rambutnya yang disentuh angin sepoi-sepoi.
Kami baru saja turun dari songthaew dan menyusuri trotoar yang disirami hangatnya cahaya mentari. Toko-toko membuka pintunya satu per satu, melepaskan aroma manis tea yang baru diseduh bertemu dengan gurih kacang sangrai dari wajan tua.
Daun-daun pepohonan bergoyang pelan, seperti ingin menyapa tanpa mengganggu. Chloe berjalan di samping saya dalam diam, lalu tiba-tiba menoleh. Pandangannya tidak meminta jawaban, hanya memastikan saya ada.
Ia bersandar pelan, memeluk lengan saya tanpa tergesa, lama. Lalu dengan suara yang lebih menyerupai napas daripada ucapan, ia berbisik, “Mama, I’m glad we came here… because I need you.”
Kalimat itu mungkin terdengar seolah muncul tiba-tiba, padahal tidak. Kata-kata seperti itu jarang lahir di tengah keramaian.
Ia tumbuh perlahan, dari langkah kecil yang saling menyesuaikan, dari genggaman yang tak ingin lepas hingga dari diam yang akhirnya percaya untuk menjadi suara.
“Telling someone you need them is like handing them a key to your inner world.”
Part 1.

