0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Reformation, brand ini bergerak di bidang fashion yang dilaunching pada tahun 2009 di Los Angeles. Brand Reformation didirikan oleh Yael Aflalo (40), seorang wanita yang dulunya berkerja sebagai model dan kini menjalani profesi sebagai seorang pengusaha.

 

Wanita cantik berambut hitam panjang ini terinspirasi oleh Elon Musk, seorang lelaki yang memulai karirnya dengan membuat inovasi dan revolusioner bagi bumi tanpa mengorbankan nilai estetika barang yang dibuat. Maka seperti itu pula tujuan Yael membangun Reformation.

 

Label Reformation yang dibuat Yael ini tidak hanya mempercantik dunia dengan pakaian yang indah tapi juga membuka jalan bagi sustainability di industri fashion. Dengan menggunakan bahan-bahan vintage dan kain yang sustainable¸

 

Reformation menghasilkan produk pakaian yang mengurangi dampak industri fashion konvensional terhadap lingkungan di bumi ini. Misi dari label ini adalah memimpin dan menginspirasi cara sustainable menjadi fashionable.

 

Produk pakaian yang dihasilkan oleh Reformation terbuat dari bahan-bahan yang sangat sustainable, menyelamatkan kain-kain deadstock, dan  menggunakan kembali pakaian vintage.

 

Siluet, kualitas, dan gayanya yang selalu trendi namun tetap sustainable ini berhasil membuat Reformation sangat terkenal di kalangan wanita milenial yang rela menghabiskan uang mereka sebanyak $60-$250 US dollar per barang. Tidak heran pula jika label ini sering terlihat dipakai oleh selebritis dunia seperti Taylor Swift, Rihanna, dan model Karlie Kloss.

 

Sebagian besar pakaian yang dibuat oleh Reformation menggunakan Tencel, Viscose, dan bahan-bahan daur ulang, yang menggunakan sumber daya lebih sedikit dibanding katun konvensional dan minim polusi daripada kain berbasis minyak. Sebanyak 15% kain yang digunakan adalah vintage dan deadstock, yang berarti telah memberi kehidupan kedua dengan menyelamatkan kain-kain tersebut dari ancaman terbuang sia-sia.

 

Bagi Reformation, Tencel adalah kain yang sangat berharga. Kain tersebut dibuat oleh perusahaan Austria bernama Lenzing, kain Tencel merupakan serat semi sintesis yang sifatnya sangat mirip dengan katun. Mereka masih bagian dari keluarga Rayon, terbuat dari bahan tanaman terbarui.

 

Tencel dihasilkan dari pohon Eucalyptus yang tumbuh dengan cepat dan besar di dataran rendah. Hanya butuh setengah hektar untuk menumbuhkan cukup pohon yang mampu menghasilkan satu ton serat Tencel, sedangkan katun membutuhkan setidaknya lima kali lebih banyak lahan dan harus lahan pertanian berkualitas bagus. Produksi Tensel Reformation dilakukan tanpa menggunakan pestisida dan insektisida.

 

Dampak produksi Tencel terhadap lingkungan tidak terlalu banyak. Lenzing memperkirakan penggunaan air yang dibutuhkan saat memproduksi Tencel adalah 155 galon per pon serat, yang mana 80% lebih rendah dari katun.

 

Proses pembuatannya menggunakan closed loop manufacturing, lebih dari 99% pelarut yang tidak beracun didaur ulang dan dimasukkan kembali ke sistem daripada dikeluarkan menjadi limbah air.

Selain Tencel, bahan eco yang digunakan Reformation adalah Viscose. Pakaian berbahan ini hanya membutuhkan setengah dari energi yang dibutuhkan untuk memproduksi atasan katun.

 

Reformation memastikan bahwa proses produksi dan tenunannya memenuhi standar sosial dan lingkungan masyarakat. Sekitar setengah dari jumlah seluruh Viscose yang digunakan didapat dari Lenzing dan berasal dari pohon-pohon di hutan yang telah tersertifikasi sustainable serta mendaur ulang bahan-bahan kimia dan limbah yang dihasilkan.

 

Selain memperhatikan bahan yang digunakan, Reformation juga sangat memperhatikan proses pembuatan produk pakaiannya. Sebisa mungkin teknik dan metode yang digunakan tidak banyak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

 

Mereka mengutamakan sustainability dalam segala hal yang mereka lakukan. Pabriknya menggunakan teknologi yang sangat efisien, ramah lingkungan dan ramah sosial. Mereka menginvestasikan perusahaannya dalam infrastruktur bangunan ‘hijau’ untuk meminimalisir jejak limbah, air, dan energi.

 

Hal tersebut dilakukan berdasarkan kesadaran atas betapa mengerikannya dampak lingkungan yang dihasilkan dari industri fashion konvensional. Reformation merupakan contoh perusahaan yang dapat membantu mengurangi dampak tersebut dengan mengonsep perusahaannya menjadi ramah lingkungan.

 

Pemilik dan pengguna merek Reformation adalah sebagian kecil dari penghuni bumi ini yang sudah bertindak, maka akan lebih baik jika usaha mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan juga dilakukan oleh semua orang.

 

Reformation Reformation

Bagikan ini: