“Silence is not an absence but a presence.” Anne D. LeClaire
Saya dan mbak Patsy berjalan perlahan meninggalkan kios accessories itu namun suasananya masih menempel seperti bayangan yang hangat.
Kami menyusuri jalur pasar malam yang berkelok, di mana lampu neon bergoyang kecil tertiup angin. Tidak jauh di depan, sebuah kios kecil tampak lebih tenang dibanding yang lain.
Meja kayu sederhana, lampu kuning redup dan seorang ibu tua yang duduk sambil mengipas arang secara perlahan. Ia menjaga bara tetap hidup sementara kue kecil berbentuk bulat matang satu per satu di atas loyang besi.
Aromanya manis dan lembut, seperti gula yang dilelehkan di atas kenangan masa kecil. Lampu kuning redup di atas kepalanya memberi cahaya yang membuat wajahnya terlihat tenang dan sabar.
Saya berhenti tanpa sadar dan memiringkan kepala, memperhatikan cara ibu itu bekerja. Gerakannya pelan tapi pasti, terlihat sudah melakukan hal itu sepanjang hidupnya. “Mbak Pats, itu kue apa yah ?” dan mbak Patsy pun ikut mengamati.
Yang membuat kios itu berbeda bukan kuenya, tapi diamnya. Tidak ada teriakan atau pun ajakan, hanya kesabaran yang tampak seperti nafasnya sendiri. Anehnya, orang-orang malah berhenti karena rasa penasaran akan diamnya.
Seorang anak kecil mendekat dan menunjuk kue yang baru matang. Ibu itu tersenyum tipis, mengangkat satu buah dengan penjepit kecil. Tidak ada kata yang terucap, hanya anggukan kecil dari si anak sebagai ucapan terima kasih.
“Silence is not absence, it is presence with a softer voice.”
Part 33.

