Sungai Citarum pada zaman dahulu kondisinya sangatlah berbeda dengan saat ini. Mungkin orang yang baru melihatnya sekarang tidak akan menyangka bahwa sungai ini dahulu terkenal dengan keindahan dan kejernihan airnya. Sayangnya, sungai legendaris ini kini telah berubah kondisinya. Ia telah kehilangan masa kejayaannya, bahkan menjadi salah satu sungai paling tercemar di dunia.
Sungai Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, Indonesia, dan merupakan sungai terpanjang ketiga di Jawa, setelah sungai Bengawan Solo dan Brantas. Air yang mengalir di sungai ini dahulu kala banyak digunakan sebagai sumber penghidupan masyarakat sekitarnya.
Penduduk sekitar Sungai Citarum menjadikan sungai tersebut sebagai penyedia ikan untuk dimakan, sumber irigasi pertanian, dan air segar untuk diminum. Kegiatan mencuci dan memasak juga biasa dilakukan oleh jutaan orang yang tinggal di sepanjang tepi sungai ini.
Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas di sungai semakin banyak tanpa ada pemeliharaan yang seimbang sehinga membuat kondisi sungai kini sangat memprihatinkan. Air sungai tidak lagi hanya digunakan untuk menyediakan air minum, tapi juga menyuplai air untuk PLTA dan kebutuhan industri tekstil yang membuat pakaian untuk beberapa.brand fashion terbesar di dunia, seperti H&M, Gap, dan Uniqlo.
Begitu banyak manfaat yang diberikan oleh sungai ini, tetapi manusia membalasnya dengan tanpa kasih sayang. Selain menjadi penyuplai air, sungai ini juga digunakan sebagai saluran pembuangan terbuka bagi pabrik-pabrik untuk membuang bahan kimia beracun dan ribuan sampah sekaligus. Inilah yang menciptakan bencana ekologi pada Sungai Citarum hingga mengikis kejernihan dan keindahannya.
Saat ini hampir sepanjang aliran sungai dipenuhi oleh sampah dan limbah industri. Ratusan ton sampah dibuang ke sungai ini setiap harinya. Jadi, jangan kaget bila gelar yang disandang sungai ini sekarang adalah sebagai sungai paling tercemar di dunia.
Tidak ada lagi ikan yang bisa ditangkap di sungai ini. Jika memancing di sungai ini, bukannya mendapat ikan malah mendapat botol plastik. Airnya sudah sangat tercemar sehingga ikan-ikan tidak bisa lagi menjadikannya tempat tinggal. Berdasarkan pengakuan seorang warga, setiap harinya Ia bisa memungut lebih dari 50 kg plastik. Belum lagi limbah pabrik yang dibuang ke sungai juga membuat air sungai kadang berwarna hitam atau merah, tidak lagi sejernih dahulu.
Gelar sungai paling tercemar bagi Sungai Citarum disematkan oleh Gary dan kakaknya yang merupakan warga negara Perancis. Sebelumnya dua orang kakak beradik itu mengunggah sebuah video mengenai sungai terbesar di Jawa Barat ini hingga menjadi viral.
Video tersebut diunggah pada Agustus 2017 lalu. Dalam videonya, Gary dan kakaknya menunjukkan aktivitas mengarungi sungai menggunakan sampan botol plastik yang dibawa dari Bali, tempat keduanya dibesarkan. Hal ini dilakukan untuk menarik anak-anak dan warga yang tinggal di sekitar untuk melihat keadaan sungai lebih dekat.
Lebih lanjut, video itu dibuat untuk menunjukkan pada dunia betapa mirisnya keadaan sungai bersejarah tersebut padahal banyak warga yang masih tinggal di tepi sungai dan menggunakan air untuk aktivitas rumah tangga. Gary yang merupakan pendiri Make a Change World ini berniat untuk membuat visualisasi yang mengejutkan dari semua sampah-sampah yang mengalir dari sungai ke laut dan membangun kesadaran tentang bahaya polusi plastik bagi lingkungan.
Beruntungnya masalah ini langsung segera ditanggapi oleh pemerintah. Sebelumnya pun sudah ada upaya pembersihan sungai, tapi setelah viralnya video Gary tersebut membuat pemerintah semakin giat mempercepat proses revitalisasi sungai tersebut.
Program tersebut kiranya juga mendapat respon yang baik dan sambutan uluran tangan dari seluruh masyarakat Indonesia. Tanpa adanya kesadaran membuang sampah pada tempatnya, seberapa sering pun sungai ini dibersihkan, sampah akan selalu ada di sekitarnya. Untuk itu, mari mulai merawat kembali lingkungan Sungai Citarum.


