Suzy Menkes atau Suzy Peta Menkes OBE , lahir di Beaconsfield, United Kingdom pada tanggal 24 Desember 24 1943 dan kini berumur 74 tahun. Ia merupakan seorang jurnalis Inggris dan kritikus mode. Sebelumnya ia adalah editor mode untuk International Herald Tribune dan kini ia telah menjadi editor untuk 21 edisi internasional Vogue online.
Menkes lahir dan besar di Inggris dan melanjutkan bangku sekolah di Brighton and Hove High School. Di saat ia menginjak usia remaja di tahun 1960-an, ia memutuskan untuk pindah ke Paris untuk belajar menjahit pakaian di tempat yang sekarang menjadi ESMOD. Ia mendapatkan tugas untuk membuat pertunjukan couture pertamanya di Nina Ricci, yang membuatnya makin terpicu dalam mengembangkan minatnya di dalam dunia mode.
Sekembalinya dari Paris, ia melanjutkan dalam bidang sejarah dan sastra Inggris di Newnham College, Cambridge sementara saudaranya belajar di Oxford. Selama masa kuliahnya disana, ia menjadi editor wanita pertama di surat kabar kampus.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di Cambridge, dia bekerja untuk The Times yang membahas tentang mode. Sisi jurnalismenya makin terasah karena ia telah menulis beberapa buku, terutama tentang gaya mode di dalam kerajaan Inggris.
Menkes mengaku mengagumi karya Eugenia Sheppard dari New York Herald Tribune dan Prudence Glynn di Times of London. Selama di Cambridge, ia menjadi wanita pertama yang bekerja untuk Varsity, surat kabar universitas. Setelah itu ia bergabung dengan The Times sebagai reporter junior. Pada usia 24 tahun, Menkes mengambil pekerjaan pertamanya sebagai jurnalis mode di London Evening Standard, di mana dia direkrut oleh editor Charles Wintour, yang juga menjadi mentornya dalam dunia mode.
Charles Wintour membuatnya mengerti bahwa sebagai editor mode, ia adalah saluran untuk publik karena ia mengambil informasi kemudian menyebarkannya dengan cara yang dapat dipahami oleh orang lain. Baginya itulah arti dari pekerjaan yang sebenarnya.
Setelah 25 tahun menjadi jurnalis mode di The International Herald Tribune, ia memutuskan berhenti pada tahun 2014 karena ia merasa bahwa sejak bergabung menjadi International New York Times, suasana kerja menjadi berbeda sejak orang baru banyak yang masuk.
Suzy Menkes Pengkritik Tajam dalam Dunia Mode
Di kalangan mode, Menkes dikenal akan kritik tajamnya, baik positif maupun negatif. Pada tahun 1990-an, ia menyebabkan kehebohan dengan menyatakan bahwa tas tangan quilted Chanel yang ikonik telah berakhir. Sebagai tanggapan, Chanel mengeluarkan iklan satu halaman penuh di International Herald Tribune menyanggah klaim tersebut.
Pada tahun 2008, ia mengecam Marc Jacobs karena menunda pertunjukan fashion shownya selama dua jam. Pada 2013, ia mengadakan lelang di online Christie, menjual lebih dari 80 buah koleksi dari lemari pribadinya.
Suzy Menkes dan Penghargaaan terhadap Kepedulian Lingkungan
Bulan lalu, Menkes mendapatkan penghargaan Visionary di Green Carpet Fashion Awards di Milan pada 24 September. Ia baru saja melakukan wawancara dengan Eco-Age yang creative directornya adalah Livia Firth yang juga merupakan salah satu pelopor di adakannya Green Carpet Challenge. Dalam wawancaranya ia membahas tentang pekerjaannya di industri fashion dan pengamatannya tentang dampak lingkungan dan sosial.
Baginya penghargaan ini sangat mengharukan karena memang sejak dahulu bahkan sejak tahun 2009 ia sudah menggaungkan tentang green fashion yang akan menjadi menjadi bagian dari industri fashion yang lebih bertanggung jawab.
Memang, dalam perannya sebagai Fashion Editor di International Herald Tribune, hampir sepuluh tahun yang lalu ia telah menulis artikel untuk The New York Times, tentang apa yang kemudian menjadi kata kunci baru untuk industri fashion – “keberlanjutan” dan ” tanggung jawab”.
Sepuluh tahun sejak menulis artikel itu, banyak perubahan yang signifikan. Laporan khusus IPCC bahwa industri mewah yang lebih bertanggung jawab telah menjadi fokus utama Konferensi Internasional Condé Nast International tahunan yang di adakan setiap April.
Hal yang utama adalah menghubungkan antara penyedia pakaian dan siapa pun yang memakainya. Ia berkata perlu lebih mendorong semua pihak untuk benar-benar tertarik pada asal pakaian yang mereka beli karena membeli barang hanya karena murah bisa menjadi kontraproduktif. Tetapi hal tersebut memang perubahan yang cukup radikal jika ingin menuntut siapa pun karena tidak semua memiliki uang dalam jumlah besar untuk membeli produk mode yang sustainable.
Menkes menekankan bahwa jika Anda benar-benar menyukai pakaian, Anda akan membenci gagasan bahwa produk tersebut diproduksi oleh orang-orang yang diperlakukan seperti budak atau menggunakan metode yang memiliki konsekuensi lingkungan yang mengerikan.
Suzy Menkes berkata bahwa kita tentunya tidak dapat mengharapkan orang tiba-tiba mengubah perilaku mereka sepenuhnya, tetapi mengubah sikap adalah hal yang bisa dikerjakan oleh siapa pun.



