0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“A few quiet minutes, when lived fully, can outshine hours spent in a blur.”

 

Langit biru membentang tenang di balik jendela kamar hotel tempat kami menginap. Saya berulang kali melirik jam digital di meja kecil dekat tempat tidur. Segalanya terasa terburu-buru.

 

Koper belum sepenuhnya  saya kemas sedangkan waktu saya untuk berangkat menuju ke airport sudah nyaris menyentuh batas. Tapi sebelum benar-benar beranjak dari kamar, Chloe dan Sophie menggamit tangan saya pelan.

 

“Mama, can we go to the playground just for a little bit? Pleaseee?” Saya nyaris menggeleng, tapi mereka sudah lebih dulu berlari keluar. Kami menyusuri jalur setapak di antara rerumputan hijau yang tampak tenang di tengah kota yang tetap sibuk menjadi kota.

 

Di sudut kecil itu, waktu seperti melambat. Angin pagi membawa aroma tanah yang baru tersentuh cahaya, dan sinar matahari jatuh melewati sela dedaunan seperti salam diam-diam dari langit.

 

Saya duduk di bangku, membiarkan koper tidak  tergenggam untuk sejenak. Menatap mereka tertawa, berayun, lalu berlari di atas jembatan kecil. Tak ada yang luar biasa, tapi justru di sanalah letak keutuhannya.

Mungkin beginilah hari memberi napas. Di sela gedung tinggi, jadwal yang saling menabrak, dan suara klakson yang terus bersahutan, alam tetap menyisakan sepotong ruang yang tak meminta apa-apa kecuali kehadiran.

 

Sophie dan Chloe, dengan permintaan sederhana untuk bermain sejenak, mengingatkan saya bahwa sering kali bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa utuh kita hadir, bahkan ketika kehidupan mendorong kita untuk bergegas.

 

“It’s not about having more time, but being fully inside the time that’s already there.”

Part 1.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!