0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“English is a language and not to be used as a measure of intelligence.”

Unknown

 

Mid-Autumn Festival yang dirayakan pada tanggal 24 September juga dirayakan di Hong Kong. Nuansa festival tersebut bisa saya rasakan di sekeliling. Di kiri kanan jalan toko-toko sudah mulai menjual mooncakes atau dalam bahasa Cantonese di sebut Yut Peng. Kue ini terbuat dari biji teratai dan dibuat untuk menyambut autumn festival.

 

Awal September sudah memasuki autumn, saat cuaca Hong Kong cenderung menjadi sangat panas, juga basah dan lembab karena hujan dengan curahan yang deras bisa datang dengan tiba-tiba di tengah teriknya sinar mentari yang menyengat kulit.

 

Dari kejauhan, Gedung HKCEC dengan bentuk bagaikan kepakan sayap burung seakan siap mendekap hangat menyambut kedatangan saya dan Sophie. Saat menuju tempat acara Fashion Centerstage yang berada di lantai 3, saya melewati SME Center yang saat itu sedang mengadakan seminar mengenai brand yang diselenggarakan oleh HKTDC.

Tanpa pikir panjang saya lalu menunjukkan buyer badge agar diizinkan masuk. Saya mendapat izin, tetapi mereka melarang Sophie untuk ikut masuk karena batasan minimal umur untuk ikut seminar adalah 18 tahun sehingga walaupun dengan perasaan kecewa, kami terpaksa keluar dari ruangan.

 

Saya tetap gigih sehingga tetap mengikuti seminar walaupun dari luar ruangan. Seminarnya diadakan di dalam ruangan yang dindingnya adalah kaca dan posisi screen tepat menghadap ke luar sehingga dari luar ruangan pun saya bisa melihat jelas apa yang ada di dalam screen tersebut.

 

Saya tidak bisa mendengar tutur kata pembicara tersebut, tapi saya tetap berusaha mencatat serta mengambil foto dari apa yang tertera di screen. Kebetulan bahasannya adalah bagaimana sebuah brand bisa menjadi kuat di dalam dunia export. Saya mengikuti slide demi slide dari balik kaca.

 

Sophie pun sangat pengertian karena memang sudah sangat sering saya ajak business trip ke luar negeri, jadi dia tahu kapan dia harus diam dan ikut menyimak.

 

“Tanpa suara jadi anggap saja kita lagi menonton Charlie Chaplin movie yah, Sayang. Setelah ini kita ke atas melihat pameran, lalu ke Bird Park yah.”

Sophie cuma tertawa lepas dan mengacungkan jempol tanda setuju.

 

Setelah sesi selesai, saya mendatangi panitia ingin menanyakan apakah ada handout dari materi tersebut. Saat saya bertanya, salah satu peserta seminar menghampiri dan memberikan salam dengan membungkukkan badan, saya pun ikut membungkukkan badan.

 

Hello, saya melihat kamu ikut mendengarkan seminar dari luar. I am from Japan. Mungkin saya bisa bantu menjelaskan beberapa poin penting.”

Hello. It’s very kind of you. Arigatou gozaimasu.” saya menjawab dengan nada girang sambil membungkukkan badan lagi.

 

Ia menunjukkan catatannya dan selama kurang lebih lima menit ia menjelaskan. Di balik accent-nya yang very thick, ia mampu menjelaskan materi tersebut dengan sangat sistematis dan jelas dengan waktu yang cukup singkat.

 

Bagi saya thick accent adalah sesuatu yang normal dan jika ia berbicara dengan grammar yang mungkin kurang tepat, saya tidak akan pernah berpikir bahwa ia kurang cerdas daripada mereka yang fasih berbahasa Inggris.

 

Kemahiran dalam bahasa Inggris memungkinkan kita untuk mengomunikasikan dan menginterpretasikan ide kepada orang-orang lain, namun perlu digarisbawahi bahwa kemampuan berbahasa Inggris tidak bisa membantu kita dalam membuat dan mengolah ide-ide tersebut.

 

Orang Jepang tersebut adalah contoh sempurna dari orang-orang cerdas dan sukses yang tidak bisa berbahasa Inggris sesempurna orang Amerika atau orang Inggris karena bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu dari bangsa Jepang.

 

Contoh lain, Einsten bisa berbahasa Inggris walaupun dengan thick accent sehingga ia lebih merasa nyaman menggunakan bahasa ibunya, yaitu German. Tidak bisa disalahkan karena Einstein baru pindah ke Amerika saat ia berumur 54 tahun. Apakah itu berarti Einstein bodoh? Kita semua tahu bahwa Einstein adalah salah satu manusia yang paling jenius.

 

Bahasa Inggris adalah bahasa global dan merupakan jembatan sehingga orang-orang dari berbagai budaya dan negara dapat berkomunikasi dengan orang dari bagian dunia lain.

 

Yang makin saya sadari adalah bahasa Inggris adalah bahasa yang spesial, tapi begitu pula bahasa-bahasa yang lain. Saya tidak mengatakan bahasa Inggris tidak diperlukan, tetapi bahasa Inggris bukan sebuah tolak ukur kecerdasan.

Bahasa Inggris hanyalah sebuah bahasa. Bahasa Inggris bukanlah liability, tetapi ability.

 

“Intelligence is like underwear: it’s important to have it, but you don’t have to show it off.”

Unknown

September 19th, 2018

 

english

Bagikan ini: