0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Di dunia ini tidak ada yang lebih banyak membuka kunci pintu kebaikan dibanding berkenalan dengan banyak orang dan caranya yaitu silaturahmi.”

Unknown

 

Pilihan transportasi umum di Brunei khususnya di Bandar Seri Begawan sangatlah terbatas. Tidak ada  MRT atau pun tranportasi online seperti gojek, grab atau pun uber. Hanya ada taxi online yaitu Dart dan taxi biasa namun  jumlahnya terbatas dan harus memesan terlebih dahulu lewat telephone.

 

Alternatif  lainnya adalah bus, namun waktu tunggu yang sangat lama dan jam operasional  hanya hingga pukul 6 sore. Sultan tidak memberlakukan pajak barang mewah dan  harga bahan bakar dengan kualitas terbaik sangatlah murah. Tak heran jika kepemilikan mobil adalah salah satu yang tertinggi di dunia dan hal yang lumrah jika melihat mobil mewah parkir berderet di garasi layaknya showroom mobil.

 

Siang itu saya baru saja landing di airport dan Moh, pemilik apartment menawarkan pick up service. Ia dan sahabatnya, sengaja meyewakan three bedrooms  apartmentnya demi  memperkenalkan keindahan budaya dan alam negaranya pada para turis.

 

“Kak Sarah malam ini saya ingin ajak kakak ke majlis atau open house.”

“Bukannya lebaran sudah beberapa minggu yang lalu yah ?“ sembari mengeryitkan kening.

 

“Majlis disini diadakan satu bulan penuh sepanjang bulan Syawal. Tanda rumah open house jika untaian lampu kerlap kerlip dipasang di sepanjang sisi teras, dan bisa langsung silaturahmi. Brunei itu kecil, kalau diurut silsilah semua saling bersaudara.” Moh menerangkan dengan singkat.

“Iya, hanya sekitar 500.000 penduduk yah, Moh.”

 

Tiga  minggu sebelumnya saya sudah mengunjungi open house yang dilakukan oleh Sultan Brunei di Istana Nurul Iman. Namun kali ini mengunjungi rumah penduduk local yang saya tidak kenal sama sekali dan bersilaturahmi layaknya lebaran di Indonesia adalah pengalaman baru untuk saya.

 

Penasaran saya pun mengiyakan ajakan Moh, “Ayo, why not.” Menjawab dengan nada excited. Setelah duduk di dalam mobil, Moh mengendarai mobilnya ke seberang jalan. Saya menutup pintu dan ia hanya membiarkan pintu disisinya terbuka dengan mesin dan AC yang masih menyala.

 

“Kamu lupa mematikan mesin dan mengunci mobil kamu.”

It’s okay, hanya sebentar.”

What ! Kalau di Indonesia, mobil semewah ini pasti sudah hilang. Oh kecuali di Bali, disana, suatu  yang normal melihat kunci motor masih menempel dan aman-aman saja, tidak hilang.”

 

Kembali ke mobil, ia mengendarai satu menit dan berhenti di toko lain yang hanya berjarak beberapa meter dari toko sebelumnya.

“Moh, apakah tidak aneh jika jarak dekat pakai mobil. Lebih lama proses masuk ke dalam mobil dan parkirnya.”

“Lebih aneh melihat orang local jalan kaki.”Ia tertawa kecil.

“Ah iya, saya pernah jalan kaki, malah dikira  mobil saya mogok dan banyak yang berhenti ingin menolong. Saya ceritakan kejadian itu ke anak saya, kata mereka, ‘next time mama harus pakai running shoes, sehingga dikira lagi jogging’.” Saya menerangkan sembari tertawa dan Moh pun ikut tertawa terbahak-bahak.

 

Setelah mampir di toko berikutnya, kami  langsung menuju ke salah satu rumah saudaranya yang terletak di perumahan mewah yang semuanya mempunyai  halaman yang luas. Kami berhenti di salah satu  rumah dan memasuki pekarangan besar dan memarkir mobil.

 

Sudah terlihat lampu kerlap kerlip dan  tenda diluar dipenuhi aneka makanan yang melimpah. Mulai dari nasi katok, ambuyat, pulut panggang hingga belutak yaitu sosis sapi yang dimasak dengan rempah khas Brunei.

 

Jejeran kue mulai dari kek batik , kuih celurut hinga kue cincin. Terlihat juga kue yang hanya muncul di acara special yaitu katilapam, kue dari bahan tepung beras yang dibungkus daun kelapa yang mengingatkan akan salah satu kue dari suku Bugis.

 

Kami turun dan Moh berkata, “Kak Sarah, mari ke dalam.”

Saat menapaki ruang tamu, dinginnya AC  dan wangi parfume dari para wanita dan pria yang sedang bercengkerama langsung tercium dari tempat saya berdiri.

“Ini kak Sarah, salah satu tamu yang menyewa apartment saya.”

“Berapa lama di Brunei ?” Tuan rumah bertanya ramah.

“Cuma semalam, hanya meeting dengan buyer dan besok sudah pulang.”

Business apa ?“ Sembari tangan mereka silih berganti menaruh aneka makanan di piring saya.

Export, tapi masih kecil-kecilan. Saya sangat terharu dengan keramahan kalian juga  jamuan yang sangat melimpah.”

 

Saya menerangkan dan tangan saya pun tak henti menolak beberapa penganan takutnya perut tidak muat karena masih ada rumah berikut yang harus kami singgahi. Malam itu saya merasakan kehangatan persaudaraan yang menembus batas negara.

 

“Silaturahmi itu meluaskan pikiran, memperkaya sudut pandang, dan merupakan satu di antara dari sekian banyak pintu rezeki.”

Unknown

 

May 5th, 2022

Bagikan ini:
error: Content is protected !!