0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsanya hidup dalam damai dan persaudaraan.”

Ir Soekarno

 

Istana Nurul Iman yang  berada tepat di tepi sungai Brunei, di bagian selatan dari Bandar Seri begawan adalah kediaman dari Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mui’zzaddin Waddaulah dan keluarganya. Istana ini merupakan istana terbesar di dunia dengan ribuan kamar di tanah seluas 20 hektar.

 

Terlihat paduan arsitektur Melayu traditional dan Eropa yang didesain oleh arsitek yang juga mengerjakan Burj al-Arab di Dubai, hotel yang disebut sebagai hotel bintang 7 saking bergelimang kemewahan. Sesuai janji disaat kembali lagi ke Brunei untuk buyer meeting berikutnya, saya menginap di rumah kak Puspa. Kedua anaknya yang adorable, Kuntum dan Affan menyambut saya dengan gembira.

 

Tak lupa saya membawakan baju batik untuk mereka sekeluarga dan satu set peralatan makan dari buffalo horn  khusus untuk Kak Puspa. Saat itu saya tiba pada hari kedua lebaran dan sesuai rencana, kami akan ke  istana untuk bersalaman langsung dengan keluarga kerajaan dan melihat gemerlapnya istana secara dekat.

 

“Oh Kak Puspa, apakah turis seperti saya diperbolehkan datang ?” Saya bertanya dengan nada khawatir.

“Tidak usah risau, siapa pun bisa datang. Muslim atau pun non muslim, orang Brunei atau pun bukan, punya pangkat atau pun tidak, semua diundang langsung oleh Sultan.” Kak Puspa menjelaskan dengan senyum ramah. “Diadakannya pada hari kedua dan ketiga lebaran, jadi besok adalah hari terakhir.” Ia lanjut menerangkan.

 

Setelah sholat subuh saya memakai pakaian traditional yang sudah saya persiapkan dari Indonesia.

“Wah cantik nian, Sarah.”

“Iya baju cantiknya saya pinjam dari mama. Saya sangat jarang ke acara pesta pernikahan jadi tidak punya banyak baju traditional untuk dipakai.”

“ Sarungnya mirip sarung Brunei.”

 

“Ini kain sarung sutra dari suku Bugis, asal saya. Baju dan sarung ini dulu saya pakai sewaktu salaman dengan ibu Jokowi saat menang award, jadi sekarang ingin pakai untuk ketemu dengan Permaisuri. Kak Puspa juga sangat cantik pakai baju kurung itu, seperti angel tanpa wing.” Saya terkagum melihat keanggunannya saat memakai baju tradisionalnya.

 

Tak lama terdengar gerabak-gerubuk karena rumah di Kampung Ayer hampir semuanya adalah rumah panggung.  Affan dan Kuntum  berlari menuruni tangga. Affan terlihat gagah dengan pakaian adat khas melayu dengan sarung dililit di pinggang dan Kuntum memakai baju kurung berwarna pink dengan rambut yang tergerai.

 

“Kuntum sayang, rambutnya mau dikonde ?”

Aunty tahu yah caranya ?” Memunculkan senyum dengan gigi yang ompong. So cute.

“Tidak pandai tapi bisa karena sering buatkan konde untuk dua anak perempuan aunty, cutenya sama dengan Kuntum.” Saya tersenyum dan Kuntum tersipu malu.

 

“Ayo kita berangkat sekarang.” Suami kak Puspa mengingatkan. Saya segera menyeruput teh hangat dan ikut masuk ke dalam mobil. Kami tiba sebelum pukul 6 pagi dan semua tamu  tanpa peduli status social telah berbaris rapi dalam antrian yang sama untuk  mendaftarkan diri.

 

Pintu istana akhirnya dibuka pada pukul 8 pagi dan kami dipersilakan masuk dan bebas menikmati beberapa area diantaranya galeri lukisan.  Di dalam semua tamu dipisah ruangan  antara tamu wanita dan pria mulai dari acara jamuan makan hingga salaman.

 

Para kaum pria bisa berjabat tangan dengan Sultan dan keluarga kerajaan pria lainnya termasuk pangeran Mateen dan para kaum wanita bisa bersalaman dengan permaisuri dan keluarga kerajaan wanita lainnya.

 

Disaat acara selesai, semua tamu mendapatkan bingkisan bernuansa kuning dengan lambang kesultanan Brunei.  Di dalamnya berisi kartu lebaran beserta foto keluarga kerajaan yang telah dibubuhi tanda tangan dari Sultan.  Saat kami keluar dari istana, terlihat Kuntum dan Affan kegirangan karena mendapatkan bingkisan khusus yaitu angpao sebesar BND 5.

 

“Setiap tahun kami dapat dan kumpulkan, tidak mau dibelanja, ini souvenir dari Sultan kami.” Mereka menjawab bersahutan.

“Wow, ratusan ribu orang berkumpul jadi satu, tanpa peduli suku, agama, ras antar golongan. Bahkan saya pun yang hanya turis sangat merasakan soul persaudaraannya.” Saya berkata penuh haru.

 

“Sultan mengundang siapa pun menunjukkan bahwa negara ini milik seluruh penduduk Brunei. Remember, jika kita semua  saling menyayangi dalam tali persaudaraan, hati akan selalu damai, Sarah.”

 

Kak Puspa menutup pembicaraan yang langsung menghangatkan  hati dan semakin merindukan Indonesia saya tercinta dengan keragamannya yang menawan.

 

“Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat-istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

Ir Soekarno

 

May 6th, 2022

Bagikan ini:
error: Content is protected !!