“Bonus demografi terjadi kalau kita punya populasi besar yang terdidik baik dan punya skill untuk bisa bersaing di dunia. Bonus datang bukan cuma karena populasi kita besar. Populasi besar yang tidak terdidik cuma akan menjadi beban demografi. Sistem pendidikan dan hasil pendidikan kita acak-acakan. Saya tahu bukan cuma ngecap, karena beberapa tahun ini saya mengajar dari tingkat SMA dan memberi bimbingan penelitian di level S1-S3 di satu universitas negeri di Indonesia yang konon levelnya lumayan. Ini usaha kecil saya agar bonus demografi itu benar benar datang. Sejauh ini, bisa saya katakan: kita jauh di bawah lumayan di level Asia.”
Prof Pitoyo Hartono
Dulu setiap kali pameran atau pun buyer meeting di China, saya paling menghindari untuk ke toiletnya karena tidak hanya kotor juga bau yang menyengat karena banyak sisa kotoran bahkan memenuhi lantai hingga membuat saya mual dan muntah . Bahkan pemandangan seperti itu juga terjadi di toilet di venue tingkat international.
Kemana-mana saya selalu membawa payung selain tissue basah dan tissue kering. Kenapa payung ? untuk menahan pintu toilet yang kadang tidak bisa ditutup atau jika sedang kurang beruntung, tidak ada sekat sama sekali sehingga saya harus membuka payung untuk menutup diri sebagai pengganti pintu.
Tapi terakhir saya kesana, beberapa bulan sebelum pandemic , saya sangat takjub, public toilet sangat bersih dan harum semerbak. Bahkan ada beberapa petugas kebersihan yang masing-masing bertugas menjaga setiap satu pintu toilet.
Begitu pengunjung keluar , keadan toilet sudah terlihat bersih , tugas mereka hanya menyemprot dan mengepel lantai agar tidak licin karena masyarakat sudah disiplin dalam menjaga kebersihan.
Setelah buyer meeting, langit masih berselimutkan rembulan dan awan, saya berangkat menuju airport untuk kembali ke Indonesia.
Disaat saya turun dari taxi, mencoba mendorong koper tiba-tiba seorang pria separuh baya berkulit putih, berambut coklat bercampur uban dibeberapa tempat sehingga terlihat perak berkilat.
“Let me help you , kamu mau menuju check in desk mana ?” Suara baritonnya memecah keheningan subuh. Ternyata kami menuju pesawat yang sama menuju Guangzhou walaupun destinasi akhir yang berbeda.
Di saat check in, walaupun kami sama-sama naik economy class, tapi saya kebetulan adalah platinum frequent flyer sehingga bisa invite satu guest untuk masuk ke vip lounge.
Kami pun berjalan menuju lounge sambil memperkenalkan diri. Namanya Thomas, dosen dari Harvard University sedang bertugas di China untuk mengajar para dosen disana.
“Yang saya tahu pendidikan China secara tradisional mengukur keberhasilan berdasarkan nilai diraport” Saya memberi tanggapan setelah tahu jati dirinya.
“Yep betul, dulu kemampuan siswa disini adalah “play by the rule”. Sekarang pemerintah China mengubah aturan mainnya dan tugas kami khusus mengajarkan para dosen mengenai kreativitas, inovasi, dan disrupsi sehingga bisa diajarkan pada muridnya. “
“Ah, jadi American mengajari China bagaimana cara menyaingi mereka untuk bisa lebih maju”, saya berkata sambil terseyum.
“Ada beberapa factor yang membuat China bisa maju, yang pertama adalah Chinese Comunist Party ( CCP ) menginginkan tidak hanya para kader CCP juga seluruh rakyatnya untuk jiefang sixiang, shi shi qiu shi atau memerdekan pikiran dan mencari kebenaran lewat fakta.”
“Wah bahasa China kamu sangat lancar , kalimat itu maksudnya apa ?” saya terlihat bingung.
“Untuk terbuka belajar kepada siapa saja dan apa saja, mengambil hal yang positif namun tidak lupa untuk selalu tetap berpegang teguh pada nilai nilai budi luhur China.” Thomas melanjutkan.
“Ah, jadi benchmarknya apapun yang bisa membuat China maju akan dianggap sesuai dengan nilai luhur mereka. Hmm, to sum up, hal positif diteladani dan sisi negatifnya untuk intropeksi diri agar terus bisa memperbaiki diri. Sederhana tapi so powerful” saya tak berhenti mengangguk dan mencoba menyelami kata-kata yang baru saja saya ucapkan.
Pembicaraan kami walaupun hanya beberapa jam memberikan insight baru yang sangat berharga. Saya sadari , dalam beberapa tahun ini, frasa ‘Inovasi China’ telah berubah dari makna meng copy cat silicon valley menjadi ketakutan Amerika bahwa China akan melampaui Silicon valley.
Keberadaan weChat, fintech dan inovasi menakjubkan dalam Artificial intelligence (AI) adalah beberapa contoh kecil. China telah berhasil melakukan pembenahan mendasar pada sistem pendidikannya.
Eco system intelektual semakin dikembangkan dan mereka mempercayai bahwa lembaga untuk mengembangkan budaya kreativitas dan inovasi dimulai dari sekolah.
“If I am walking with two other men, each of them will serve as my teacher. I will pick out the good points of the one and imitate them, and the bad points of the other and correct them in myself.”
Confucius
February 13th, 2022

