0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Sometimes, the smallest things take up the most room in our heart.”

Winnie the Pooh

 

Suasana dari luar jendela train bermandikan cahaya karena disinari rembulan yang sinarnya tetap terang walaupun kadang tertutup oleh iringan awan.

 

Cahayanya yang sangat indah dan hangatnya roiboos tea yang dibawa oleh Michael membuat hati saya bernyanyi riang penuh kehangatan.

 

Namun, ruangan di dalam kereta yang cukup dingin karena temperatur AC yang sepertinya sengaja di setting cukup rendah, akhirnya membuat saya agak menggigil.

 

Saya lalu mengambil handkerchief yang sedari tadi hanya duduk manis di dalam tas kecil lalu mencoba menyebatkannya ke bahu.

 

Oh gosh, it’s getting stone cold di dalam kereta ini yah, Michael,” ujar saya sambil mencoba melindungi seluruh badan saya dengan handkerchief yang ukurannya hanya sekepalan tangan dan berbahan silk yang tipis.

 

Michael lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya untuk menahan rasa sakit karena kebanyakan tertawa. “Sarah, apakah kamu mengira diri kamu liliput yah, mau membungkus seluruh badan kamu dengan handkerchief.”

 

Michael melihat saya dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik, lalu melanjutkan kalimatnya setelah tertawanya sudah mulai reda,

 

I knew it, as always, kamu lupa membawa jaket lagi dan kamu juga cuma pakai sandal jepit. Tidak heran kamu kedinginan. You are crazy, jalan-jalan ke luar negeri cuma pakai sandal jepit.”

 

Saya cuma tersenyum iseng dan berkata, “Lho di Swiss kan kita juga lagi di luar negeri.” Saya mencoba beradu argumen namun akhirnya tidak saya lanjutkan karena pandangan matanya yang sangat serius memberikan nasehat.

 

“Michael, hati saya masih terasa sangat warm karena telah bertemu Chris, tapi sekarang saya stress karena tiba-tiba memikirkan segudang homework yang telah menunggu. Saya ingin mencoba tidur saja sekarang, tolong bangunkan kalau sudah sampai yah.”

 

Saya mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membelakangi Michael yang saat itu duduk tepat di samping jendela yang bermandikan cahaya yang indah.

 

Tak lama kemudian, Michael menepuk bahu saya dengan kencang sehingga mengagetkan saya yang sedari tadi mencoba untuk tidur.

 

Saya membuka mata dengan agak dipicingkan karena cahaya lampu di kereta yang cukup terang dan seketika saya merasakan badan saya hangat. Saya akhirnya menyadari jaket jeans yang tadi dipakai Michael sudah menutupi badan saya.

 

Look, Sarah. Ayo buka mata kamu. Sayang sekali jika keindahan ini kamu lewatkan. C’mon mana inner joy kamu? Lagipula tidak usah stress, nanti kita belajar bersama,” ucap Michael sambil menunjuk ke luar jendela dengan penuh semangat.

 

Saya membenarkan posisi duduk saya yang tadinya telungkup. Saya tertegun dan seketika rasa stress saya hilang saat meresapi secara perlahan keindahan kerlap-kerlip bintang dari kegelapan malam. Dari balik jendela, terlihat bintang-bintang yang seakan membentuk rasi bintang di angkasa.

 

Sambil tetap melihat ke jendela saya lalu berkata, “Oh My, jendela kereta ini bagaikan layar cinema yang terindah. Apakah itu Cassiopeia, bentuknya mirip huruf W, Michael,” sambil menunjuk sekumpulan bintang yang bersinar terang di tengah laju kereta.

 

Kami lalu menghabiskan 50 menit terakhir dari rute perjalanan dengan menikmati kerlap-kerlip bintang sambil menikmati sisa roiboos tea yang belum sempat saya habiskan sedari tadi.

 

Setelah sampai di Basel station saya berkata, “Thank you untuk jaket ini, roiboos tea, dan juga telah mengingatkan tentang inner joy dalam simple moment seperti ini,” sambil menyerahkan jaket yang sedari tadi membungkus hangat tubuh saya.

 

“Ayo dipakai saja, akan lebih dingin jika kita beranjak keluar. Kalau kamu sakit nanti siapa yang akan menemani saya dan Tilahum besok ke market. Semua demi masa depan saya juga,” jawab Michael dengan gaya cueknya namun terselip rasa perhatian yang sangat dalam terhadap saya.

 

Saya melihat raut mukanya yang tegas dan akhirnya saya tak mampu menolak. Kami lalu keluar dari train station, sambil berjalan saya lalu berhenti sebentar dan tersenyum sambil menatap ke langit.

 

Menikmati indahnya kerlap-kerlip bintang ditemani oleh hangatnya teh Roiboos dan canda tawa dengan seorang sahabat meskipun kaki kedinginan karena salah kostum adalah contoh simple moment yang selama ini saya taken for granted.

 

Tanpa Michael sadari, Ia telah mengingatkan saya bahwa dibalik tumpukan homework, saya harus tetap membangunkan “inner joy” agar selalu bisa bersorak sorai dalam puluhan simple moment yang terjadi setiap hari.

 

“Everything has beauty, but not everyone sees it.”

Confucius

 

May 30th, 2018

 

Cassiopeia Cassiopeia Cassiopeia

Bagikan ini: