0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Home was a voice on the other end, reminding us we were still remembered.”

 

Tilahum masih berdiri di ambang pintu ketika kami benar-benar melangkah pergi. Cahaya pagi memantul di lantai dapur yang kini kosong, menyisakan jejak kehangatan dari tawa, sisa aroma koshari dan selembar daftar belanja kecil yang kini tersimpan rapi di kantong jaket saya.

 

Di luar, udara Basel menggigit lembut, seakan ingin mengingatkan bahwa bulan May belum tentu membawa hangat. Langkah kami sempat selaras, sebelum akhirnya tak lagi berirama,  saya sibuk melompat ke kiri ke kanan , sementara langkah Michael tetap panjang dan santai, seperti biasa.

 

Michael menatap langit yang mulai cerah saat mentari muncul kembali, menyingkap selapis tipis kabut yang belum sempat mengucap selamat tinggal. Kami melangkah perlahan menuju halte tram, hanya beberapa menit dari apartment.

 

Langit perlahan merekah, saat mentari mulai muncul malu-malu di balik bayang atap gedung. Kabut yang menggantung sedari subuh mulai terangkat, menyerah pada sinar pagi. Basel, di waktu seperti ini, selalu terasa seperti seseorang yang baru bangun, tenang, sedikit mengantuk tapi mulai tersenyum.

 

Kami berjalan perlahan menyusuri jalan yang masih lengang. Hanya sesekali roda sepeda melintas, sisanya hanyalah langkah kami sendiri, berbaur halus dengan ritme kota yang baru saja terbangun.

 

Lalu dari kejauhan, saya melihat phone booth yang selalu kami gunakan menelephone ke rumah terutama saat rindu belum tahu cara bersembunyi. Atapnya biru tua, dengan tulisan Swisscom dan logo merah-putih-biru yang melengkung saling menyatu, seakan terjalin dalam gerakan spiral.

 

“We were basically in that phone booth almost every day,” gumam saya. Michael tersenyum tipis. “More tears fell in there than rain on its roof.” “Yes… the unofficial embassy of every international student,” saya menimpali. Kami tertawa kecil tapi hati saya diam-diam tersentuh.

 

“It wasn’t just a phone booth, it was a lifeline stitched across time zones.”

Part 8.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!