“Adventure doesn’t mean climbing Mount Everest. It’s about embracing life’s surprises.”
Helm ia sodorkan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk merapikan tas plastic yang tergantung di depan motornya. Kami melaju menyusuri jalanan kota yang padat dan melewati gedung tua yang menjadi saksi bisu riuhnya aktivitas.
Restaurant kecil berjejer di pinggir jalan, mengepul aroma pho hangat yang memanggil selera. Langit semakin gelap dan udara terasa berat seolah menahan rintik hujan yang hanya tinggal hitungan menit.
Titik-titik hujan mulai turun, perlahan membasahi kaca helm. Saya hampir membuka mulut untuk memintanya menepi dan mencari tempat berteduh. Namun, sebelum sempat berkata apa-apa, dia menoleh dengan senyuman kecil , “ Okay.”
Hujan yang tadinya hanya rintik berubah semakin deras. Saya mulai pasrah dengan kemungkinan tiba di tujuan dalam keadaan kuyup. Tapi tiba-tiba, tanpa aba-aba dia menaiki trotoar dengan motornya.
Saya terkejut saat motor berguncang di atas jalanan yang bumpy, tapi perlahan menyadari sesuatu, kami terlindung dari hujan. Saat mendongak, terlihat trotoar dinaungi deretan pohon besar dengan dedaunan lebat yang membentuk payung alami.
Tempat yang sebelumnya hanya jalur pejalan kaki kini menjadi jalan kecil kami yang penuh kejutan. Dia menengok ke belakang, wajahnya sedikit cemas. “Sorry” katanya singkat.
Saya justru tertawa terbahak, menyadari betapa absurd namun menyenangkan situasi ini. “It’s okay!” seraya memberi thumbs up. Wajahnya seketika berubah lega, lalu dia pun ikut tertawa, melepaskan kekhawatirannya.
“Adventure is worthwhile.” – Aesop
Part 2.

