0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Desa Les di Bali ini adalah sebuah desa yang terletak di pesisir pantai di sebelah utara Bali, yang berada di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Sepintas terlihat bahwa desa ini tidak terlalu istimewa jika dibandingkan desa pesisir pantai lainnya yang bermayoritas nelayan. Namun jika dilihat lebih dekat atau berkunjung ke Desa Les Anda akan menemukan banyak kolam ikan dan aquarium yang berisi ikan air laut karena sebagian besar penduduk desanya berprofesi sebagai nelayan ikan hias.

 

Awal mula berdirinya desa ini berawal dari penduduk Desa Panjingan yang merasa ketakutan dan tidak aman karena desanya selalu didatangi dan dirusak oleh bajak laut. Sehingga semua warga Desa Panjingan memutuskan untuk mekiles/ngenes (pindah tempat atau bersembunyi ke tempat lain) agar terbebas dari jajahan bajak laut.

 

Penduduk Desa Panjingan perpindah ke daerah yang ditumbuhi beberapa pohon kayu buhu. Sehingga penduduk Desa Panjingan menamakan daerah ini dengan sebutan Desa Buhu. Di daerah yang baru ini penduduk Desa Panjingan merasa aman dan tentram tanpa jajahan bajak laut yang datang, namun ketidaknyamanan dirasa pada saat mereka sulit mencari air.

 

Akhirnya sang pemimpin desa memutuskan untuk berkeliling Bali Utara agar menemukan daerah yang memiliki sumber air yang banyak. Dalam pencariannya, pemimpin desa menemukan daerah pesisir yang terdapat banyak pohon dengan dedaunan yang rimbun, hal ini menandakan bahwa daerah ini terdapat sumber air yang melimpah.

 

Penduduk Panjingan menamakan daerah ini dengan nama Desa Les, kata “Les” diambil dari kata mekiles/ngenes karena penduduknya memutuskan untuk pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk bersembunyi.

 

Hal yang tidak mengenakkan kini terulang kembali, penduduk Desa Panjingan mengalami sebuah bencana. Sang pemimpin pun mendapat pentunjuk gaib bahwa Ia dan warga lainnya harus membangun Penataran/Pelinggih dalam bangunan Pura. Setelah semua menaati petunjuk gaib tersebut Desa Les menjadi aman dan terhindar dari bahaya maupun bencana apapun, serta kekayaan lautnya semakin melimpah.

 

Dengan memiliki kekayaan laut, membuat sebagian penduduk bermata pencaharian nelayan. Semakin berkembangnya zaman, nelayan di sana menangkap ikan tidak menggunakan jaring lagi tetapi dengan cara menyemprotkan zat potas atau bius ke dalam laut.

 

Lama-kelamaan zat tersebut bukan mempermudahkan pekerjaan justru dapat menghilangkan pekerjaan nelayan karena populasi ikan menurun drastis bahkan sulit dicari dan juga mematikan terumbu karang di laut.

 

Pada tahun 2000, para nelayan tersadar pada apa yang sudah diperbuat selama berpuluh-puluh tahun. Bersama Yayasan Bahtera Nusantara semua nelayan dibina untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan lautnya kembali, dengan cara penangkapan ikan ramah lingkungan yang memanfaatkan jaring penghalang.

 

Sekarang ikan yang mereka tangkap menggunakan jaring jauh lebih berkulitas dibandingkan sebelumnya dan pada saat sampai ke tangan pembeli tingkat kematian ikan juga menurun.

 

Keberhasilan tersebut membuat semua nelayan meninggalkan potas dan kembali menggunakan jaring seperti dulu. Tidak hanya itu saja, para nelayan juga sangat membatasi penangkapan ikan demi kelestariannya.

 

Di tahun 2003 para nelayan juga memfokuskan diri untuk melakukan penanaman dan perawatan terumbu karang kembali dengan cara transplantasi terumbu karang menggunakan metode rehabilitasi.

 

Kawasan rehabilitasi terumbu karang ini dinamakan Coral Farm Dive Site (Kebun Terumbu Karang). Yang unik, nelayan menyusun penanaman terumbu karang dengan struktur huruf  L, E, S yang berarti Desa Les.

 

Selain terumbu karang di sini juga ada berbagai macam ikan hias mulai dari butterflyfish, wrasse, damselfish, surgeonfish, cardinalfish, goby fish, blenny fish, blue tang triggerfish, letter six fish, clown fish dan biota laut lainnya.

 

Hanya wisatawan yang dipandu yang diperbolehkan ke tempat ini, tidak hanya itu bagi siapa pun termasuk nelayan sangat dilarang menjaring ikan di kawasan ini. Wisatawan yang menyelam ke area ini tidak hanya dihibur oleh ikan-ikan namun dapat juga melihat atraksi dari penyelam terumbu karang yang memang sedang ditugaskan merawat terumbu karang.

 

Wisatawan juga berkesempatan mengadopsi terumbu karang sebagai bentuk perhatian mereka terhadap keberlanjutan usaha rehabilitasi yang sedang dijalankan. Kata adopsi di sini bukan berarti dibawa pulang namun wisatawan hanya memberi tanda atau nama pada wadah terumbu karang.

 

Tidak hanya berhasil dalam melestarikan kekayaan lautnya kembali, para penduduk desa kini juga sudah berhasil menjadi produsen garam laut terbaik dengan skala internasional karena garam tersebut sudah diekspor ke luar negeri seperti Amerika, Australia, dan Jepang.

 

Dengan menjadi lebih sadar terhadap lingkungan dapat memberikan dampak yang baik tidak hanya akan dirasakan masyarakat lokal tapi juga generasi-generasi mendatang. Desa Les di Bali ini  kini telah membuktikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dengan cara ramah lingkungan dapat menguntungkan alam maupun diri sendiri.

 

Desa Les di Bali Desa Les di Bali Desa Les di BaliDesa Les di Bali Desa Les di Bali Desa Les di Bali Desa Les di Bali

Bagikan ini:
error: Content is protected !!