0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Kigali adalah sebuah kota di Rwanda, Afrika Selatan. Kota ini telah menjadi ibu kota Rwanda sejak tahun 1962 saat negara tersebut meraih kemerdekaannya. Setelah perang sipil berakhir di akhir tahun 1990an, Kigali mengalami kerusakan parah sehingga harus dibangun ulang dan pemerintahan barunya sudah dihadapkan dengan masalah keamanan kota dan penyediaan pelayanan pokok untuk warganya. Meskipun banyak melewati kondisi krisis, Kigali kini berhasil menjadi model kota sustainable.

 

Kota dengan julukan “tanah seribu bukit” ini memiliki letak geografis yang unik. Kigali adalah salah satu kota berkembang yang ada di Afrika, kotanya bersih dan teratur. Berkat ambisi rencana pengembangan nasional yang menggebu-gebu, kota ini berhasil menjadi kota metropolis yang sangat modern dan dikenal dengan kesuksesannya di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.

 

Kota Kigali saat ini masih dalam tahap pembangunan, yang mana gedung-gedung baru dengan cepat menggantikan gedung-gedung lama. Jalanan beraspal dua jalur membentang mulus menyusuri Kigali, menghubungkan antara pemukiman kota dengan pedesaan di dataran tinggi yang terselimuti kabut. Kota ini sering kali menjadi pilihan destinasi banyak organisasi untuk menyelenggarakan konferensi internasional.

 

Tidak sulit menemukan alasan mengapa Kigali kini menjadi kota yang bersinar. Hal ini dikarenakan oleh bagaimana pemerintah kota Kigali menangani masalah lingkungan dengan cara-cara yang mengesankan, salah satunya adalah dengan melarang impor plastik yang non-biodegradable.

 

Selain itu, pemerintah juga menetapkan satu hari dalam sebulan bagi penduduknya untuk membersihkan kota dan merapikan lingkungan sekitarnya. Tak heran jika sampah sulit ditemukan di jalanan Kigali. Kota ini bahkan mendapat penghargaan dari UN-Habitat pada tahun 2008 atas usahanya membersihkan daerah kumuh dan peningkatan fasilitas perkotaan, terutama pengumpulan sampah dan penyediaan tempat tinggal, air dan sanitasi.

 

Tidak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Kigali akan dengan cepat berkembang seperti sekarang. Saat peristiwa genosida Rwanda 20 tahun yang lalu, Rwanda benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan. Ratusan ribu jiwa tewas dalam peristiwa tersebut dan pembangunan negara selama puluhan tahun pun ikut terampas. Tidak hanya itu, genosida Rwanda juga telah menghancurkan infrastruktur dan melumpuhkan pelayanan pokok yang tersedia.

 

Beruntungnya, Rwanda cepat bangkit kembali dari keterpurukannya. Kemajuan pesat kota Kigali merupakan buah hasil kerja keras warga dan pemerintah setempat untuk menguatkan persatuan nasional dan mewujudkan visi baru negara tersebut. Visi Rwanda 2020 menyatakan perlunya untuk mentransformasi negerinya dari basis ekonomi pertanian menjadi masyarakat yang berbasis pengetahuan agar dapat menjadi negara dengan penghasilan menengah. Untuk itu, pemerintah Rwanda berencana untuk membangun kembali Kigali menjadi “Singapore” nya Afrika.

 

Pemerintah Rwanda telah merencanakan perluasan infrastruktur modern dan penyaluran pelayanan yang efisien untuk penduduk Kigali, termasuk air, sanitasi, energi, dan transportasi. Kigali memiliki tujuan lingkungan dan kesustainablean yang meliputi visi menjadikan kota lebih aman, bersih, dan lebih modern.

 

Realisasi visi tersebut diaplikasikan melalui sektor ekonomi dan lingkungan kota Kigali. Terlihat dari situs web resmi Kigali yang menekankan rencananya untuk mengedepankan gagasan paling mutakhir bagi kotanya dan perencanaan infrastuktur berdasarkan tiga cabang sustainable: ekologi, keadilan, dan ekonomi. Pengelolaan lahan, air dan keanekaragaman hayati yang sustainable menjadi panduan rencana pengembangan karena elemen-elemen tersebut merupakan faktor utama bagi desain perkotaan terpadu.

 

Rancangan konsep pembangunan Kigali dikenalkan pada tahun 2005 berjudul “Kigali Conceptual Master Plan” dan telah memenangkan setiap penghargaan perencanaan perkotaan internasional yang sustainable, termasuk American Planning Association Award dalam nominasi Best Comprehensive Plan (2007) dan Best International Planning Project (2011), serta penghargaan tertinggi dari American Institute of Architects dan American Society of Landscape Architects. Setelah konsepnya dilengkapi pada tahun 2013, Kigali Master Plan langsung memenangkan penghargaan Singapore Institute of Planners dalam nominasi Best Planning Project (2013).

 

Selanjutnya, dalam sepuluh tahun terakhir ini (bekerja sama dengan sejumlah mitra akademis, donatur, dan LSM), Kigali telah mengimplementasikan sejumlah kebijakan, program dan proyek yang mencerminkan setiap hal kesustainablean yang direkomendasikan oleh Noeleen Heyzer, Under-Secretary-General PBB.

 

Menurut Heyzer, ada tujuh syarat utama yang perlu dipenuhi untuk mewujudkan perkotaan yang sustainable: desain kota yang baik, desain bangunan hemat energi, sistem transportasi yang sustainable, efisiensi energi berbasis luas, pengelolaan sumber daya air, pengelolaan limbah padat dan daur ulang, serta koordinasi semua elemen tersebut.

 

Dengan menerapkan ketujuh elemen tersebut, Rwanda berusaha mewujudkan Kigali menjadi pemimpin Sustainable Urbanism (SU). Tidak hanya Kigali, tujuh syarat tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh setiap negara sehingga kota-kota di negaranya juga dapat bersaing menjadi SU. Jika cara ini mampu memajukan Kigali yang sebelumnya terpuruk, tidak ada salahnya mencoba hal yang sama untuk memajukan negeri sendiri.

 

kigali kigali kigali

Bagikan ini: