0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Samsudin, pendongeng keliling yang melakukan kampanye pelestarian alam lewat wayang kardus yang dibuatnya sendiri. Dongeng merupakan sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang memiliki makna, namun penuh khayalan dan suatu hal yang dianggap oleh masyarakat suatu hal tidak benar-benar terjadi.

 

Biasanya dongeng bersifat menghibur dan mengandung nilai pendidikan. Dongeng dibuat karena terinspirasi dari suatu yang pernah terjadi. Dongeng juga berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral yang mendidik, menggambarkan kebenaran, dan juga menghibur.

 

Samsudin adalah salah satu pendongeng yang cinta dan peduli terhadap lingkungan dan hewan. Pria 47 tahun asal Indramayu, Jawa Barat ini, mampu mengayuh sepeda dari kampung halamannya ke Jakarta hanya untuk menyuarakan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Tidak hanya Jakarta, Samsudin juga keliling Nusantara untuk mencapai misinya.

 

Aktifitas mendongeng ini sebenarnya sudah di mulai pada tahun 2012 pada saat mengajar anak-anak di sekolah, namun media yang dipakai untuk mendongeng tidak lengkap. Kemudian Samsudin memutuskan untuk berhenti mengajar di sekolah dan ingin fokus berdongeng.

 

Samsudin memilih fokus mendongeng karena hal ini dianggap ampuh untuk mendorong generasi muda terutama anak-anak dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi pada dirinya dan orangtua.

 

Pesan yang disampaikan setiap dongengnya adalah tugas anak-anak sebagai generasi penerus jangan sampai diabaikan sehingga perlu adanya improvisasi dongeng dan pengandaian-andaian yang dapat disampaikan ke anak-anak dan dapat diterima secara langsung.

 

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Samsudin membulatkan tekadnya untuk berdongeng keliling Nusantara.  Di mulai pada tanggal 1 April 2016, Samsudin memulai aksinya di Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Jakarta dengan mendongeng tentang Badak dan Habitatnya. Setelah dari Jakarta, Ia melanjutkan aksinya dan berdongeng ke kota lainnya, seperti ke Kota Serang, Kota Agung, Lampung, Bengkulu dan berakhir di Jambi.

 

Pada pertengahan Juli sampai 17 Agustus 2016, Samsudin mulai mendongeng di Zological Society of London (ZSL) Telanaipura, Jambi. Zological Society of London ini adalah sebuah lembaga konservasi satwa liar berbasis kebun binatang yang berpusat di London, Inggris yang mempunyai visi dan misi untuk mencapai dan mempromosikan pelestarian satwa liar di Indonesia dan habitatnya. Tidak hanya mendongeng tapi Samsudin juga ikut andil dalam upaya pelestarian hewan di sana.

 

Selain ke ZSL, Samsudin juga mendongeng ke Sekolah Al-Falah dan SD Luar Biasa di Telanaipura. Ia juga mendongeng ke banyak sekolah yang secara spontan tiba-tiba Ia datangi.

 

Namun kegiatan mulia Samsudin ini juga pernah mendapat beberapa penolakan dengan alasan banyaknya kegiatan sekolah dan dapat menggangu pelajaran.

 

Padahal tujuan perjalanan Samsudin ini hanya untuk berdongeng. Baginya semakin banyak anak-anak yang mau diajak bercerita dan berdiskusi lewat dongeng, berarti semakin banyak anak yang tahu tentang satwa langka, ekosistem, dan pemeliharaan hutan di Indonesia secara mendalam.

 

Setelah kunjungannya ke Jambi, Ia melanjutkan perjalanannya ke Kota Sorek, Pangkalan Kerinci, Pekanbaru, Rantauprapat, Aek Kanopan, Tebing Tinggi, dan berakhir di Medan tepat pada tanggal 17 Agustus 2016.

 

Perjalanan Jakarta sampai Medan ini Ia tempuh hanya dengan mengendarai sepeda miliknya. Sepeda tua ini Ia beli dari saudaranya, penggunaan sepeda ini juga dimaksud agar orang terinspirasi terhadap pengunaan sepeda dan tidak bergantung pada kendaraan lain dan juga agar tidak malas berolahraga.

 

Penggunaan sepeda ini dirasa Samsudin lebih ramah lingkungan dan cenderung menarik perhatian banyak orang sehingga orang tahu maksud dan tujuan dari kampanyenya.

 

Samsudin, pendongeng keliling mengajak anak-anak bercerita lewat dongeng, membuat anak berani berbicara dan mengeluarkan pendapat serta belajar berpikir tentang sesuatu. Anak-anak akan tahu wujud Indonesia yang sesungguhnya dengan keanekaragaman budaya, cara pandang masyarakat, kondisi lingkungan dan hutan yang ada.

Samsudin Samsudin

Bagikan ini: