0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Tess Whitfort, gadis 24 tahun dari  Melbourne Australia dengan karya uniknya yang penuh sentuhan punk telah memenangkan Redress award 2018 di Hongkong. Award ini diselenggarakan oleh Redress, sebuah badan amal yang bergerak di bidang lingkungan dan bekerja untuk menghilangkan limbah dari dunia fashion.

 

Program penghargaan ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 oleh Christina Dean di tahun 2007 silam. Koleksi pakaiannya yang diilhami oleh dunia punk yang dibuat menggunakan bahan-bahan dari sisa gulungan kain dari industri dan juga menggunakan pola tanpa membuat limbah.

 

Perlombaan ini di adakan di Hong Kong bulan September tahun lalu dan di ikuti oleh  11 finalis yang berkompetisi untuk memenangkan Redress Design Award . Semua desainer menunjukkan koleksi berkelanjutan mereka di panggung catwalk. Ia merupakan sarjana di bidang desain fashion dari Box Hill Institute dan di dalam kelas hanya memiliki  lima mahasiswa. Kelasnya  memiliki fokus kuat pada keberlanjutan, ia menjelaskan. “Kami diajari berpikir berbeda”.

 

Tess Whitfort dan Pola Desainnya Yang Tanpa Limbah

Secara tradisional, peran desainer adalah menciptakan pakaian atau koleksi yang indah dan  mungkin mengambil satu langkah lebih jauh untuk membayangkan seorang pelanggan mengenakannya. Belum ada langkah selanjutnya dan belum menjadi norma bagi para desainer untuk mempertimbangkan apa yang terjadi pada sebuah pakaian setelah pemilik pertamanya bosan. Merencanakan kehidupan masa depan pada pakaian tersebut perlu mulai dipikirkan. Bisakah kain didaur ulang? Jika tidak, apakah akan terurai?

 

Namun hingga 80 persen dari dampak lingkungan suatu produk diputuskan pada tahap desain. Desainer memiliki kekuatan yang sangat besar untuk melihat lebih dari sekadar estetika dan hal ini  penting dalam konteks krisis limbah industri saat ini. Menurut Ellen MacArthur Foundation, dari 53 juta ton bahan yang digunakan untuk produksi pakaian setiap tahun, 87 persen ditimbun atau dibakar setelah penggunaan terakhirnya.

 

Tentu saja, estetika itu penting di dalam mendesain dan ia telah memberikan sudut keindahan dengan cara yang unik. Di saat ia menerima penghargaannya, ia tampil unik dengan mengenakan anting-anting kawat berduri dan kaus kuning dan hitam yang dilukis dengan tangan.

 

“Saya terinspirasi oleh punk dan saya ingin menangkap pemberontakan itu dalam pekerjaan saya. Menjadi desainer yang berkelanjutan berarti menjadi sedikit pemberontak dan tidak takut untuk merusak cetakan dan mencoba hal-hal baru. Secara estetika, saya mengambil unsur-unsur gaya pemberontak dan mencampurkannya dengan sedikit keanggunan dan kehalusan. ” tegasnya.

 

 

Hal ini merupakan pendekatan holistik yang menarik bagi para juri. Mereka semua menyukai bagaimana Whitfort membuat setiap elemen koleksinya melalui lensa keberlanjutan. Dia menggunakan linen dari sisa kain yang tidak terpakai atau deadstock, tinta cetak yang ramah lingkungan, dan perangkat keras logam yang telah di upcycled. Tetapi lebih dari itu, fokus utama koleksinya  adalah pola tanpa limbah. Ia menggunakan pendekatan yang sangat eksperimental untuk hal tersebut dan mengambil banyak risiko yang kini terbayar dengan hasil desainnya yang unik dan fenomenal.

 

Tess Whitfort dan Misi Berkelanjutan

Whitfort mulai semakin memikirkan fashion berkelanjutan saat ia belajar. Selain dikejutkan oleh betapa merusaknya industri fashion, desain berkelanjutan juga menarik karena membawa dimensi baru untuk desain. Ia tidak ingin hanya merancang sesuatu yang tampak hebat, tetapi melibatkan pemikiran yang lebih dalam tentang bagaimana desain berfungsi dan berinteraksi dengan lingkungan.

 

Ada beberapa merek berkelanjutan di Melbourne yang melakukan hal-hal luar biasa dan ia idolakan misalnya A.BCH dan pendekatannya yang sangat teliti dan bijaksana untuk fashion berkelanjutan. Zero-Waste Daniel juga melakukan beberapa hal menarik dengan limbah tekstil, dan ALYX Visual adalah merek yang sangat menarik bagi dirinyakarena pengaruh streetwearnya yang sangat bagus dan fabrikasi yang di-upcycled. Selamat untuk Tess Whitfort yang telah memenangkan  Redress award.

 

tess whitfort tess whitfort tess whitfort tess whitfort

Bagikan ini: