“Crying is not a sign of weakness; it’s a courageous expression of emotions that leads to strength.”
Cahaya rembulan dari balik awan kelabu menembus kaca jendela yang membungkus satu sisi dari Macau airport membuat ruangan terlihat temaram, hangat dan nyaman. Saya menatap Chloe dan Sophie yang tertidur pulas walaupun kami masih terperangkap karena badai.
Andaikan tidak saya ajak ke Macau, pasti saat ini mereka sedang tertidur lelap di dalam kasur yang empuk dibalik selimut tebal yang lembut. Saya kembali menatap mereka yang tidur hanya beralaskan dinginnya lantai, tas menjadi bantal dan dibungkus jacket sebagai selimut.
Saya menyela lamunan yang penuh dengan pengandaian lalu mengibaskan tangan dan menghentikan lamunan yang mulai melantur kemana-mana. Tiba-tiba mereka bangun dan tampak setitik air mata yang tertahan di sudut mata masing-masing.
“It’s okay jika ingin menangis, sayang. Mama baru saja selesai menangis di depan tante Patsy karena kita berempat ternyata kuat walau diterpa badai.“ Sembari memeluk dan air mata mereka mulai berjatuhan. Bisa saya rasakan hangatnya setiap tetesan tersebut jatuh di bahu di kelamnya malam.
“And those tears ?” Melepas pelukan beberapa saat untuk melihat wajah dua malaikat mungil dengan mata masih sembab dipenuhi linangan air mata. “They signify the depth of your unwavering resolve.” Melanjutkan dan kembali memeluk mereka.
I hope I will always be the mum they can confide in and they don’t have to worry about putting on a brave face. I am so blessed that my shoulder’s like a scrapbook with memories for each of their tears. Tears from my formidable girl. Yep, tears from my indomitable girl.
True, tears are often associated with vulnerability, but in these moments of emotional vulnerability, the depth of our strong character as a woman shines through.
Happy Kartini day untuk Chloe dan Sophie , Kartini mungilku.
“Crying is not a sign of defeat; it’s a powerful expression of emotions that leads to inner strength and renewal.”

