“When something is nearly gone, its quiet beauty speaks louder.”
Pagi masih lembut ketika dua assistant wanita tua itu mulai mengangkat satu per satu tas kain perca di atas meja dan menyerahkannya kepada Mbak Patsy untuk segera dibungkus.
Suasana di sekitar meja Mbak Patsy tiba-tiba berubah, beberapa pengunjung yang melintas berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan itu dengan rasa ingin tahu.
Di tengah keramaian kecil itu, seorang ibu berusia setengah baya berdiri tidak jauh dari meja. Di tangannya, masih tergantung satu tas kain perca yang tadi sempat ia ambil untuk dilihat lebih dekat.
Ia menimangnya perlahan, masih ragu antara membelinya atau mengembalikannya ke tempat semula. Salah satu assistant mendekat. “Ma’am, would you like to take that one ? If not, we will also take it.”
Ibu itu terdiam, matanya bergerak cepat antara tas di tangannya dan meja yang kini sudah hampir kosong. Ada sedikit panic dalam tatapannya dan setelah menarik napas pelan, ia akhirnya berkata, “I’ll take this one.”
Ia tidak ingin tas itu juga diambil oleh mereka. Dari kejauhan, Mbak Patsy memperhatikannya dengan senyum kecil.Kadang, kita baru benar-benar menyadari nilai sesuatu saat ada orang lain yang hampir mengambilnya.
Bukan karena tiba-tiba ia menjadi lebih berharga, tapi karena di moment itu, kita belajar melihat apa yang sebenarnya sudah ada di depan mata, namun sering kita anggap biasa.
“We often recognize beauty only when it’s about to slip away.”
Part 9.

