0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“It helps people to become honest when they are treated as honest”

Elijah McLeon

 

Musim dingin masih menggelayut dengan manjanya di langit Eropa kala itu, termasuk Basel. Walaupun salju sudah hilang di terpa hujan, namun dinginnya udara masih tetap menusuk sampai ke tulang.

 

Rasa lapar di pagi itu mampu mengalahkan dinginnya pagi yang mencabik-cabik tubuh sehingga tak biasanya, saya telah selesai mandi walaupun hari masih sangat pagi. Saya segera menyambar tas selempang dengan semangat pagi yang menggebu-gebu di sanubari dan rasa lapar yang menggerogoti perut.

 

Saya pun turun ke bawah dan mengetuk pintu apartemen Michael yang berada satu gedung dengan saya. Michael dengan senyum ramahnya langsung menyambut kedatangan saya. Barisan gigi putih dan mata yang sangat cerah, ditambah terpaan sinar mentari pagi dari balik jendela yang tepat berada di belakangnya membuat mata saya langsung silau saking bersinarnya.

 

“Good morning, Michael! Aww bersinar sekali kamu pagi ini, Michael.”

“Good morning, Sarah. Kamu baru tahu yah kalau saya adalah angel?” jawab Michael sambil mengangkat kedua tangannya ke samping seakan menyibakkan sayapnya.

 

“Kamu ada sarapan apa, Angel Michael? Saya sebagai penduduk bumi sudah sangat lapar. Semalam saya lupa membeli roti di Migros karena mengobrol lama di telepon dengan mijn liefje, Chris.”

 

“Lho kan semalam kamu meminta saya menunggu untuk ke Migros bersama, tetapi kamu tidak muncul sampai malam. Akhirnya saya tidur saja. Mari kita ke Tilahum, pasti dia masih ada roti”.

 

Kami lalu berlari kecil menuruni anak tangga tanpa menunggu lift yang sangat lama. Detik seakan detaknya sama dengan hitungan abad jika sedang kelaparan.

 

“Tilahum, mari kita sarapan. Kami sudah lapar.” Saya mengetuk pintu dengan agak kuat agar Tilahum mendengar.

 

“Ayo Tilahum, kami sudah mau pingsan karena kelaparan,” tambah Michael dengan suara seperti orang yang sangat sengsara.

 

Tak ada suara orang menjawab. Sosok yang muncul dari balik pintu kayu berwarna coklat tua itu malah Mohamed, teman satu apartemen Tilahum dari Egypt.

 

“Tilahum sudah keluar sekitar 5 menit yang lalu.”

“Ah, okay. Terima kasih.” Jawaban itu kami ucapkan dengan kompak.

 

Saat kami hendak berbalik badan, Mohamed menahan langkah kami dengan berkata, “Saya sedang membuat sarapan, yaitu bubur dari kacang parang dicampur dengan minyak zaitun dan isy. Apakah kalian mau masuk? Saya juga sedang membuat teh yang sangat terkenal dari Egypt, yaitu teh El Arosa.”

 

“Terima kasih, Mohamed. Sampai jumpa di kelas. Kali ini kami sarapan di kantin saja sekalian mencari Tilahum yang entah kemana,” ucap saya mencoba menolak dengan halus.

 

Kami lalu menuju kampus dan sesampainya di kantin, sudah terdapat beberapa nampan makanan yang berisi berbagai jenis roti dari croissant hingga bagel yang terlihat sangat fresh. Ada juga kue tradisional dari Basel, yaitu Läckerli yang  terbuat dari hazelnut dan kacang almond, dicampur madu dan potongan buah-buahan yang dipanggang lalu diberi taburan gula putih di atasnya. Oh, so heavenly delicious.

 

Setiap nampan sudah tertera harga dari masing-masing makanannya dan di ujung seluruh nampan terdapat keranjang untuk menaruh uang pembayaran. Kantin ini mirip kantin yang ada di manapun di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Perbedaannya hanya terdapat pada pola yang diterapkan, yaitu pola swalayan tanpa kasir.

 

Saya dan Michael mengambil sendiri makanan yang diinginkan lalu menaruh uang ke dalam keranjang uang yang disediakan dan mengambil uang kembalian tanpa dilayani oleh seorang penjaga pun.

 

Michael lalu berkata, “Oh Sarah, mereka sangat mempercayai kita sampai saya akan merasa bersalah jika hendak berbuat curang.” Ia mengatakannya sambil menggelengkan kepala tanda kagum.

 

“Iya yah, Michael. Berarti pada dasarnya kejujuran itu bisa dibentuk jika didukung oleh lingkungan yang mempercayai dan mendukung kita yah.” Saya juga ikut menggelengkan kepala karena terpesona dengan system kejujuran yang telah berjalan dengan baik selama bertahun-tahun tanpa merugi sedikitpun.

 

Saya lalu tertegun setelah menyelesaikan kata-kata saya sendiri karena kata yang keluar dari mulut saya tersebut membuat saya tersentak. Ternyata semua manusia bisa jujur jika lingkungan memberikan kepercayaan penuh.

 

Dalam lingkungan yang berlandaskan kepada kepercayaan, kejujuran menjadi sesuatu yang bukan pilihan yang bisa berubah kapan saja tergantung mood. Sifat jujur itu pada akhirnya dibentuk dari hasil membiasakan diri sehingga menjadi kebiasaan yang akan tumbuh dengan subur di dalam lingkungan yang penuh dengan kepercayaan.

 

“Trust men and they will be true to you. Treat them greatly and they will show themselves great”

Ralph Waldo Emerson

March 16th, 2018

More storytelling :

https://www.sarahbeekmans.co.id/behind-the-brand/

Sarah Beekmans Main

 

swiss tropical institute swiss tropical institute swiss tropical institute

Bagikan ini:
error: Content is protected !!