0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The road to my heart is paved with paw prints.”

Unknown

 

Suasana di Hong Kong pagi itu terasa mellow karena udara sejuk dan desiran angin yang mendayu-dayu menerpa lembut pipi saya. Saya berdecak kagum ketika menatap birunya langit yang berpadu dengan secercah sinar mentari yang bersembunyi di balik iringan awan yang bergerak perlahan.

 

Desiran angin yang sedari tadi terasa sangat lembut bagaikan alunan denting piano dengan Simphony no 9 dari Bethoven yang membuat saya tenggelam dalam alunan romanticnya. Tiba-tiba saya terhentak, ternyata tangan mungil Sophie tengah menarik tangan saya untuk bergegas mempercepat langkah kaki menapaki trotoar, meninggalkan gedung HKCEC.

 

Acara mengunjungi pameran Fashion yaitu Centerstage dan Pameran Jam International telah usai. Kami berjalan menuju apartemen untuk menaruh beberapa folder dari pameran dan salat lalu keluar. Hujan yang awalnya rintik-rintik saat menuju MRT Station menjadi semakin deras saat keluar di Causeway Bay Station. Kami lalu menuju ke gate B, di depan pintu station sudah terlihat sesak orang yang berlindung dari terpaan hujan.

 

Saya lalu membuka aplikasi Google Map untuk mencari arah menuju ke Cat Cafe. Letaknya hanya 800 meter dari tempat berteduh namun hujan yang sangat lebat seakan menyerbu dengan brutalnya menyurutkan niat saya.

 

Tatapan mata Sophie yang teguh membuat saya tidak tega menanyakan apakah ia ingin tetap ke Cat Cafe atau ke tempat lain, karena sebenarnya di dalam stasiun banyak tempat makan yang nyaman tanpa harus menerobos derasnya tumpahan hujan dan angin yang bertiup kencang.

 

Akhirnya kami nekat menyusuri pinggir trotoar perlahan sembari menempelkan badan ke dinding toko agar tidak basah. Atap di sepanjang dinding cukup mampu melindungi kami, walaupun sepatu dan kaki tetap basah terkena hempasan air hujan.

 

Sesampainya di perempatan, berhenti sejenak dan saya mencoba memberi pengarahan ke Sophie.

“Sophie, ada dua crossing sections, apakah tetap mau ke sana? Tapi ingat, kita akan basah kuyup. Is it okay, Sayang?”

 

“Maksud Mama kita akan mandi hujan yah?” Senyum bahagia dengan kilatan yang berbinar terpancar dimukanya.

 

Oh well, sort of, tapi kalau basah kuyup nanti masuk angin. Don’t worry, mama bawa obat Tolak Angin, kan orang pintar minum Tolak Angin,” saya berkata sambil menggerakkan tangan meniru iklan zaman dahulu mengenai obat masuk angin.

 

Raut wajah Sophie terlihat bingung karena jargon iklan tersebut terdengar asing di telinganya.

 

“Karena orang yang tidak pintar, bungkusnya yang di minum,” saya melanjutkan dan Sophie terlihat semakin bingung dengan jokes saya yang garing atau istilah Sophi,e “Jokes Mama crunchy deh.”

 

Kami berpegangan tangan sambil berlari menyeberangi perempatan jalan, menerjang derai hujan dengan angin yang menghempas kencang. Sophie tetap melangkahkan kaki mungilnya dengan riang menyusuri jalanan sepanjang Causeway Bay. Ia terlihat excited karena tidak lama lagi akan lunch bersama kucing-kucing.

 

Kami masih bergandengan tangan sambil menaiki jembatan dan berhenti sejenak untuk mengambil nafas setelah berlarian di tengah hujan. Kami terdiam saling menatap melihat baju basah kuyup dan acak-acakan lalu akhirnya tertawa terbahak-bahak karena terlihat seperti kelinci yang baru saja jatuh dari kubangan.

 

Akhirnya kami sampai di gedung lalu memasuki lift yang modelnya sudah seperti zaman dahulu kala di mana saat lift berhenti, terdapat pintu besi yang dibuka manual dan pintu lift di dalamnya baru terbuka. Ruangan di dalam lift kecil sehingga hanya muat empat orang dan itu pun sudah dalam posisi terhimpit.

 

Setelah tiba di lantai 1, kami menghampiri Cat Cafe tujuan kami. Dari luar terlihat penuh sesak dengan pengunjung dan kami tidak diizinkan masuk karena sudah fully booked. Saya lalu memohon agar diizinkan masuk bahkan rela tidak mendapatkan meja, cukup satu kursi saja untuk berdua. “My daughter akan duduk di pangkuan saya. Please let us in,” rayu saya.

 

Saat saya masih mencoba merayu agar bisa masuk, tiba-tiba seekor kucing  mungil muncul dari balik pintu dan menghampiri Sophie. Sophie lalu membungkuk dan kucing tersebut terlihat sedang menatap Sophie. Ekornya naik dan bergerak dengan perlahan serta ujung ekornya terlihat sedikit melengkung.

 

“Mama, look the tail, this Cutie memberi sign kalau dia menyukai saya. Hey, Cutie. I love you. You know what, saya menembus hujan untuk bertemu kamu,” Sophie berbisik sambil membelai lembut dan dibalas dengan suara dengkuran si Cutie Cat. Hati saya langsung lumer melihat cara mereka berkomunikasi. Cinta yang menembus ruang bahasa.

 

“What greater gift than the love of a cat?”

Charles Dickens

 

January 8th, 2019

 

love

Bagikan ini: