0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Don’t let someone who doesn’t know your value tell you how much you’re worth.”

Unknown

 

Sesampainya kami di Leeds Bradford Airport, saya segera turun lebih dahulu sedangkan Brian mencari tempat parkir. Cuaca dari sejuk perlahan berubah menjadi semakin dingin dan membuat kulit saya terasa beku dan agak menggigil. Saya menunggu Brian di luar sambil menyilangkan tangan ke bahu agar terasa hangat. Tak lama, dari kejauhan Brian datang menghampiri.

 

Ia lalu membuka scarf yang dipakai dan menyodorkannya ke hadapan saya. Awalnya saya menolak, tapi karena leher serasa beku akhirnya mengiyakan dan bisa saya rasakan hangatnya scarf dari bahan wool tersebut saat saya mengalungkan ke leher.

 

Kami lalu berjalan masuk dan ruangan langsung terasa hangat. Dari layar jadwal penerbangan (FIDS) terlihat kalau pesawat KLM dari Amsterdam akan landing sekitar 45 menit lagi.

“Sarah, Shall we grab something to drink? Maybe coffee?” Brian menunjuk ke salah satu café yang terletak di sebelah kanan, tidak jauh dari check in desk.

Yes, good idea, I prefer tea though.”

Saya menaruh jaket abu-abu di sandaran kursi dan lalu duduk. Brian menggosokkan tangan mencoba menghangatkan tangan, “Di sini hangat, di luar it’s bloody cold isn’t?”

 

Saya mengiyakan sambil tertawa, “Dingin, tapi it’s fun. I love it. Salah satu mimpi yang sudah tercapai adalah kuliah di Inggris, jadi cuaca seperti ini sangat saya nikmati, vibes luar negerinya sangat terasa.”

 

Oh sweet, semoga mimpi kamu yang lain terwujud. You can make it,” sambil mengepalkan tangan memberi semangat dan mata electric blue-nya yang tajam terlihat makin berkilat.

 

“Oh well, one of my dream yaitu saya ingin sekali sekolah di the best university in the world. Hmm tapi saya rasa orang-orang akan tertawa dan mengatakan cita-cita saya terlalu tinggi atau akan berkomentar kalau bahasa Inggris saya masih sangat standard.

 

“Saya yakin saya bisa, tapi setiap memikirkan apa yang mungkin orang pikirkan, semangat saya runtuh lagi,” saya melanjutkan dengan nada getir.

 

“Inggris kamu lumayan bagus dan I think you are really smart.” Brian menatap wajah saya yang penuh keraguan dengan tatapannya yang tetap tajam dan cool.

 

Brian lalu mengamati jam tangan berwarna emas yang membingkai pergelangan tangan saya.

“Really nice watch, Sarah.”

Thank you, ini gift dari orang tua saya. It’s really precious for me.

 

“I see, coba kamu lepas dan bawa ke kasir, tanyakan berapa nilai jam tersebut.”

Walaupun agak bingung saya menuruti perkataan Brian untuk menghampiri kasir.

Excuse me, kira-kira kamu tahu tidak nilai jam ini berapa yah?”

 

Lelaki tersebut kebingungan lalu berkata, “Hmm depend on, harganya about 50 quid kalau knock off,” jawabnya dengan logat Yorkshire yang sangat kental. Saya lalu bertanya ke customer yang kebetulan sedang mengantre di belakang saya, “What do you think, Sir?”

 

“100 poundsterling?” Jawabnya sambil lalu.

Saya lalu kembali ke meja dan Brian berkata, “Jadi berapa nilainya, Sarah?”

 

“Mereka hanya menebak jadi jawabannya berbeda-beda karena tidak tahu tentang value jam ini. Saya tahu jam ini sangat bernilai, dan kalau kita ke authorized dealer, mereka pasti sependapat dengan saya karena mempunyai pengetahuan tentang jam tersebut.” Saya menjelaskan panjang lebar.

 

“Sarah, seperti itulah value diri, walaupun kita menganggapnya tinggi, namun orang akan menilai berdasarkan knowledge mereka masing-masing.”

 

Penjelasan Brian menjadi pengingat bagaimana seharusnya saya menghargai value diri saya. Saya harus memahami eksistensi dan potensi diri saya jika tidak ingin terjebak dalam rasa tidak percaya diri sehingga pada akhirnya akan sulit untuk melangkah menggapai mimpi.

 

Jam tangan tersebut berharga karena saya menilainya tinggi. Saya bisa saja beragumen bahwa jam tangan saya itu indah memesona karena mengandung logam mulia dan butiran berlian, tetapi jika orang lain tidak mengetahui jenis material tersebut maka jam saya tidak berharga apa-apa di mata mereka.

 

Layaknya value jam tangan, penilaian setiap orang akan berbeda-beda tergantung kadar pengetahuannya tentang jam itu. Pada akhirnya ia hanya berkilau di mata pakarnya saja. Jadi, hanya diri saya dan orang yang tahu banyak tentang diri saya saja yang bisa mengetahui value saya dengan tepat.

 

Kejadian tersebut sebagai pengingat agar saya jangan pernah meragukan diri sendiri sehingga saya harus menetapkan value tersebut dengan jelas dan jangan membiarkan orang lain menentukannya.

 

“If you don’t know your own value, somebody will tell you your value, and it’ll be less than you’re worth.”

— Bernard Hopkins

 

July 11th, 2018

 

value

Bagikan ini:
error: Content is protected !!