“I’m a storyteller. I love to tell stories about brands. I love to tell stories, period. I like painting pictures through the words, and that’s what I do.”
Gary Vaynerchuk
Ketika pameran Manila Fame di bulan Oktober tahun lalu berakhir, saya dan Chloe kembali ke NAIA airport di Manila, Philliphines, untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Singapore.
Setiap detik dalam perjalanan selama hampir 4 jam terasa sangat singkat karena malaikat mungil yang sedang tertidur lelap dalam pelukan menemani business trip saya kala itu.
Setibanya di Singapore kami langsung terlelap karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Samar-samar dalam tidur, saya mendengar celotehan anak kecil dari balik jendela kamar hotel yang tepat bersebelahan dengan jalanan umum. Hari sudah terang sepertinya.
Rasanya matahari bersinar dengan terik dari balik jendela, memberi kehangatan di kulit saya. Bola mata hazel Chloe yang terbingkai dengan cantik oleh rambut coklat sebahu dan senyuman manis di bibir warna pink mungilnya menyambut saya saat membuka kedua kelopak mata ini. Saya pun berkata dalam hati, “Wow, what a moment! I am blessed.”
Saya mencium kening Chloe dan bersiap-siap untuk berangkat ke event yang sudah saya tunggu-tunggu, yaitu Brandminds. Salah satu pembicaranya adalah orang yang sangat saya idolakan dari zaman dahulu kala. Dia adalah Gary Vaynerchuk, master of storytelling.
Kami turun ke bawah menunggu taksi yang akan membawa kami ke Suntec Building. Sesampainya di sana, kami langsung menuju ke lantai atas.
Belum sampai di tempat keynote, dari kejauhan saya melihat Gary Vee dan D Rock videographer-nya sedang mengobrol santai.
Selintas saya tidak bisa percaya dengan apa yang dilihat oleh mata saya. Pada menit itu belum ada orang sekitar yang mengenali kalau dia adalah Gary Vee sehingga suasana masih sunyi, selain beberapa team dari Gary Vee.
Saya pun berlari menghampiri dan berteriak, “Gary Vee, oh Gosh, is that you ? I can’t believe my eyes. Saya dan anak saya adalah fans berat kamu. Bolehkah anak saya foto dengan kamu?” Setelah itu saya berkata, “Oh saya juga ingin foto.”
Saat saya berdiri di samping idola sejati tanpa ada sekat sedikit pun, saya seakan sedang bermimpi. Setelah berfoto bareng, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menimba ilmu dari Gary Vee.
Hampir sejam saya mentoring dan banyak insight yang saya dapatkan dari pembicaraan secara langsung tersebut, terutama bagaimana menjadi good storyteller. Salah satu yang sangat powerful adalah “No matter what we do, our job is to tell a story and it’s about bringing value.”
Setelah itu Gary Vee dan team turun ke bawah menuju venue dan di saat itulah banyak fans yang berdatangan sambil berteriak histeris.
Setelah acara selesai, Chloe berbisik, “Mama, actually mama yang ngefans sekali kan dengan Gary Vee? Setiap hari talking and watching about Gary Vee. Saya biasa saja.”
Saya lalu tertawa sambil mengiyakan dan berlompatan kecil ke kiri dan kanan tanpa henti karena sangat bahagia. Sambil menggelengkan kepala Chloe berkata, “Mama, I think kamu kelihatan seperti orang gila sekarang.”
“Yes, mama kamu gila, sayang. But you know what, dreams do come true. Mimpi mama mentoring langsung walaupun cuma sebentar jadi kenyataan. Ada pepatah dari Confucius, guru akan datang saat muridnya siap. Oh… I coulnd’t agree more.”
“Dulu mama kejar Gary Vee sampai ke keynote-nya di Hong Kong dan Amerika tapi cuma sebatas di bangku penonton. Sekarang mama sudah mulai menulis, jadi gurunya datang.” Saya melanjutkan dengan berapi-api dengan rangkaian kalimat yang mirip kereta api senja panjangnya.
Pertemuan tersebut makin membuat saya memahami the power of storytelling. Dengan storytelling saya tidak memaksakan pendapat saya, tapi mengajak pembaca terlibat langsung dalam mengikuti alur pikiran yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan.
Selain itu juga menciptakan hubungan emosional dengan pembaca sehingga mereka bisa menyelami ide pemikiran saya. Yang paling utama adalah saya bisa memberikan value terhadap pembaca melalui tulisan tersebut.
Tulisan yang sama diceritakan oleh dua orang yang berbeda, yang satunya akan bisa membuat cerita tersebut menjadi hidup dan satunya lagi mungkin malah membuat pembaca tertidur. Letak perbedaannya adalah di storytelling.
Terima kasih atas semua insights-nya, Gary Vee. Kamu adalah the best storyteller in the world and I am a storyteller in training. #kibas poni
“Storytelling is by far the most underrated skill in business.”
Gary Vaynerchuk
April 12th, 2018

Chloe Beekmans & Gary Vaynerchuk

