0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We either make ourselves miserable or we make ourselves strong. The amount of work is the same,” Carlos Castenada.

 

Macau terletak di sebelah barat daya, 70 km dari Hong Kong. Negara ini terdiri dari beberapa pulau dan secara geografis terdiri dari 4 wilayah divisi, yakni Metro Makau, Pulau Cotai, Pulau Taipa, dan Pulau Coloane.

 

Sejak pertama kali menjejakkan kaki menelusuri setiap sudut jalanan, asimilasi budaya Eropa terutama Portugal sangat kental terasa.

 

Hari itu saya, Chloe, Sophie, dan Mbak Patsy baru saja pulang dari Hong Kong setelah beberapa hari tradeshow di Macau. Sesampainya kami di Macau, hujan rintik-rintik menyambut dan mengiringi sepanjang perjalanan menuju ke hotel.

 

Di dalam bus, seorang wanita Asia berdiri tepat di samping saya dan kami akhirnya mengobrol. “Saya bekerja di sini, tapi seluruh pegawai pulang cepat karena hari ini ada typhoon level 8 pada jam 2 siang.”

 

Saya menatap Mbak Patsy dan kami berdua langsung resah, “Aduh Mbak, kenapa tidak ada di news yah, hotel di Macau juga tidak memberitahu saat kita mau berangkat ke Hong Kong.”

 

Setelah sampai di hotel, saya segera meminta receptionist untuk memanggil taksi. Beberapa kali petugas hotel mencoba menelpon, tetapi tidak ada jawaban. Ia lalu berkata, “Sepertinya taksi sudah berhenti beroperasi. Sebaiknya kalian ke terminal bus karena bus masih beroperasi sampai jam 2 siang.”

 

Hujan semakin deras, tapi tidak ada pilihan lain. Saya, mbak Patsy dan Chloe masing-masing memegang koper di tangan kiri dan kanan. Saya awalnya memegang tiga koper, namun tiba-tiba tangan kecil Sophie meraih salah satu koper kecil dari tangan saya. Awalnya saya ragu karena ia harus mendorong dua koper, namun ia tetap bersikeras membantu.

 

Setelah berjalan selama dua puluh menit menembus derasnya hujan, akhirnya tiba di terminal yang sudah dikerumuni oleh ratusan orang.

 

Setiap bus yang lewat selalu penuh, namun penumpang tetap berebut ingin masuk. Setelah menunggu lama dan terpaan angin dingin semakin menggerogoti tubuh, saya berkata pada Mbak Patsy, “Saya ke hotel Grand Lisboa yah, Mbak, mungkin di sana bisa dapat taksi dan memanggil ke sini untuk menjemput.” Mbak Patsy dan Chloe tetap menunggu di terminal dengan semua koper-koper kami.

 

Saya ditemani oleh Sophie ke hotel Grand Lisboa, di mana antrian taksi sudah mengular semakin panjang. Petugas pun berkata bahwa bus dari hotel sudah tidak beroperasi lagi menuju airport. Kami berlari kembali menembus hujan menuju terminal. Setelah berdiskusi dengan Mbak Patsy, kami memutuskan untuk berlindung di dalam hotel Grand Lisboa.

 

Tepat jam 2 siang, hembusan angin sangat kencang terlihat ingin melumat semuanya. Daun pepohonan menukik ke kiri dan terhempas ke kanan, batangnya yang kokoh pun seakan hendak tercabut dari akarnya. Kami berdiri sambil terpaku melihat dari balik jendela sambil menahan nafas.

 

Kami sudah pasrah, namun Chloe dan Sophie tetap terlihat tegar. Dengan penuh haru saya memeluk tubuh mereka yang terasa beku oleh kencangnya angin yang menerpa sedari tadi. “Capek yah, Sayang? Takut?” bisik saya. “No, Mama.”Chloe bergumam lirih. “Pusing tidak kepalanya kena hujan?” “It’s okay, Mama,” Sophie menimpali.

 

Denyut waktu terasa lamban ketika kami menanti tanpa ada kepastian. Setelah beberapa saat, akhirnya kami bisa keluar. Antrian taksi tidak berlaku lagi, semua berebut ingin lebih dahulu. Di terpaan angin yang sudah tidak terlalu kencang, tak terhitung berapa puluh taksi yang saya kejar, namun kalah cepat dengan yang lain.

 

Saya terduduk di pinggir jalan dan dari kejauhan muncul lagi taksi kosong. Dengan sisa tenaga saya berlari dan langsung membuka pintu belakang dan tetap bertahan di saat yang lain mencoba mendorong saya keluar. Sophie dengan sigap membuka pintu depan dan langsung duduk karena ada yang mencoba membuka pintu depan.

 

Mbak Patsy dan Chloe dibantu dengan security hotel mengangkat koper. Setelah semua koper masuk, Chloe dan Mbak Patsy melompat masuk dengan tak kalah gesitnya. Kami berempat berpelukan dan akhirnya bisa bersorak gembira di dalam taksi yang membawa kami ke airport.

 

Mengeluh memang hal yang manusiawi, mengingat manusia tentu punya rasa lelah, terutama saat cobaan yang semakin berat datang bertubi-tubi. Namun, setiap cobaan mengandung intan permata yang berharga dan pada akhirnya akan menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

 

“Assume that every problem in your life is a lesson to make you stronger, then you never feel like a victim”

Andrew Matthews

 

October 28th, 2019

 

part 2 http://www.sarahbeekmans.co.id/tears/

part 3 http://www.sarahbeekmans.co.id/all-you-have/

Bagikan ini: